Bahagiakah Kamu Ketika Doa Tak Dikabulkan?
BAHAGIAKAH kamu ketika doamu tak dikabulkan Allah SWT?
Jika tidak, mungkin perkataan di bawah ini perlu direnungkan :
"Jika doaku terkabul, aku bahagia karena itu memang keinginanku. Namun aku lebih bahagia jika doaku tak terkabul, karena itu berarti yang terjadi adalah keinginan-Nya." (Ali bin Abu Thalib ra)
Perkataan ini pasti muncul dari ketawakalan yang luar biasa dari seorang sahabat Nabi saw. Ketawakalan yang digambarkan oleh ayat berikut :
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Qs. 2 ayat 156-157)
Mereka yang meyakini kalimat "Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un" menunjukkan kepasrahan total kepada Allah, bahwa apa saja yang ada di dunia ini hanyalah milik Allah.
Mereka itulah akan memperoleh ampunan dan rahmat (kebahagiaan) dari Allah, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk karena mengetahui kebenaran.
Akankah keimananmu sampai seperti yang dikatakan oleh sahabat Ali Bin Abu Thalib ra di atas? Yang lebih bahagia jika kehendak Allah yang terjadi, walau tidak sesuai keinginanmu?
Subhanallah....justru ada sebagian manusia yang rusak imannya, bahkan menjadi atheis, ketika doanya tak dikabulkan Allah. Ia kecewa dan protes kepada Allah.
Padahal mungkin saja Allah SWT tidak mengabulkan doanya karena menghendaki kejadian (takdir) yang lebih baik untuknya yang belum terungkap hikmahnya.
Ketahuilah....bahwa mereka yang berhubungan dengan Allah hanya karena mengharapkan imbalan yang nyata dan konkrit, seperti kekayaan, kesenangan, kemasyhuran, dan lain-lain, telah dikecam oleh Allah SWT dalam ayat berikut :
"Adapun manusia, apabila Tuhan mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kesenangan, maka dia berkata, "Tuhanku telah memuliakanku. Namun apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka dia berkata, "Tuhanku telah menghinaku." (Qs. 89 ayat 15-16)
Allah SWT telah mengungkap modus dari mereka yang menyembah dan beribadah kepada-Nya hanya semata mengharapkan timbal balik berupa imbalan materi.
Seharusnya kita malu jika menyembah Allah karena ada modusnya. Hal ini berarti kita menjadikan Allah yang Maha Besar sebagai "budak" dari keinginan kita. Kita merasa dimuliakan Allah jika keinginan kita terwujud dan merasa dicampakkan Allah jika keinginan dan doa kita tak terwujud.
Padahal...bukankah kita, manusia, yang seharusnya menjadi budak dari keinginan Allah dengan menyembah-Nya? Sebab hanya begitu maksud penciptaan dari manusia tercapai, yang akhirnya akan membuat manusia itu bahagia seperti yang dikatakan oleh Ali bin Abu Thalib ra di atas.
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku" (Qs. 51 ayat 56)