Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Balas Budi Kepada Allah

·2 menit baca

KITA ini hidup dari begitu banyak kebaikan yang tidak pernah kita minta secara detail, tapi Allah memberikannya lebih banyak.


Lalu pertanyaannya sederhana:

Masa iya... semua itu kita nikmati tanpa rasa ingin membalas budi kepada Allah SWT?


Mengapa kita perlu membalas budi kepada Allah?


Pertama, karena semua yang kita miliki berasal dari-Nya. Bukan hanya rezeki berupa materi, tapi juga kesempatan hidup. Bahkan saat kita jatuh, Allah masih memberi waktu untuk kita bangkit.


Kedua, karena Allah memberi tanpa menunggu kita layak untuk diberi. Kita sering baru berbuat baik setelah orang lain berjasa. Tapi Allah? Walau kita masih bermaksiat, tapi pemberian Allah tetap mengalir. Walau kita lalai, tapi pintu taubat tetap dibuka.


Ketiga, karena iman tanpa rasa terima kasih adalah omong kosong. Ibadah bisa berubah jadi rutinitas semu jika tidak dilandasi kesadaran: “Aku ini berutang nikmat kepada Allah.”


Lalu, bagaimana bentuk balas budi kepada Allah SWT?


1.⁠ ⁠Taat, meski tidak selalu semangat.

Balas budi bukan menunggu mood, tapi tetap shalat saat lelah, tetap jujur saat ada peluang curang, tetap menjaga halal meski berat. Allah tidak butuh ketaatan kita, kitalah yang butuh dibahagiakan oleh ketaatan itu.


2.⁠ ⁠Menggunakan nikmat sesuai ridha-Nya.

Harta yang kita miliki, walau sedikit, dipakai untuk kebaikan. Ilmu untuk menuntun, bukan merendahkan. Waktu untuk mendekat kepada-Nya, bukan hanya mengejar dunia. Nikmat yang didapat bukan untuk maksiat. Sebab itu berarti kita lupa diri.


3.⁠ ⁠Bersyukur dengan amal, bukan hanya ucapan.

Ucapan “Alhamdulillah” itu hanya awal, bukan akhir. Syukur sejati adalah saat nikmat membuat kita semakin beramal sholih, bukan sekedar berucap syukur.


4.⁠ ⁠Bersabar saat nikmat dicabut.

Balas budi juga terlihat saat Allah mengambil sesuatu. Kita tidak marah, tidak protes berlebihan, dan tidak putus asa. Sebab kita sadar, yang memberi berhak untuk mengambil.


5.⁠ ⁠Mengajak orang lain mendekat kepada Allah.

Menyebarkan kebaikan, berdakwah, atau sekadar mengingatkan orang lain dengan lembut, itu juga bentuk balas budi kepada Allah. Karena kita tidak ingin nikmat hidayah berhenti di diri sendiri.


"Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." (Qs. 28 ayat 77)


Perlu dipahami juga bahwa membalas budi kepada Allah bukan karena Allah membutuhkan kita, tapi karena kita terlalu banyak menerima.


"Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu apa pun) dari alam semesta (ini)" (Qs. 29 ayat 6) 


Jika manusia saja kita balas jasanya, maka kepada Allah yang jasanya tak terhitung sudah sepantasnya hidup kita menjadi ungkapan terima kasih yang panjang untuk-Nya.

Bagikan:WhatsApp