Bekal Di Usia Senior Agar Husnul Khotimah
AKAN datang satu masa di mana tenaga mulai melemah, langkah tak lagi sekuat dulu, dan cermin tak lagi memantulkan wajah muda. Itulah usia senior, usia yang semakin menua. Fase yang paling menentukan tentang bagaimana kita akan menutup kehidupan ini.
Rasulullah saw bersabda : "Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan penghuni neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari)
Dari hadits tersebut, ternyata yang menentukan bukan perjalanan panjang kita, tapi detik-detik terakhir kita.
Lalu apa saja bekal yang harus disiapkan agar para senior wafat dalam husnul khotimah?
1. Taubat yang sungguh-sungguh
Di usia tua, tidak ada lagi waktu untuk menunda. Dosa-dosa masa lalu bukan untuk dilestarikan, tapi untuk ditinggalkan.
Bertaubatlah yang benar. Bukan sekedar istighfar di lisan, tetapi juga penyesalan yang membakar hati yang kotor, dan tekad untuk tidak mengulangi lagi.
"Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya…" (QS. At-Tahrim: 8)
Taubat dengan keyakinan betapa luasnya ampunan dan rahmat Allah SWT.
"Katakanlah : Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah…" (QS. Az-Zumar: 53)
Yakinlah, selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.
Rasulullah saw bersabda : "Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama belum sampai (ruh) di tenggorokan." (HR. Tirmidzi)
2. Menjaga shalat hingga akhir hayat
Shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi tali terakhir yang menghubungkan kita dengan Allah SWT. Di usia tua, ketika badan mulai lemah, justru shalat harus semakin dijaga.
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. Al-Hijr: 99)
Rasulullah saw bersabda : "Amalan pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya…" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Bahkan dalam detik-detik terakhir hidupnya, Nabi saw terus berpesan: "(Kerjakanlah) sholat, (kerjakanlah) sholat. Dan takutlah kalian kepada Allah atas hak-hak orang yang lemah." (HR Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah)
Seakan beliau saw ingin menegaskan bahwa jangan sampai kita bertemu Allah dalam keadaan meninggalkan shalat.
3. Memperbanyak dzikir dan tilawah
Di usia tua, dunia perlahan menjauh dan akhirat semakin dekat. Maka jangan biarkan hati kosong. Hidupkan ia dengan dzikir. Basahi hati dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra’d: 28)
Rasulullah saw bersabda : "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dan yang tidak berdzikir seperti orang hidup dan mati." (HR. Bukhari)
"Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah." (HR. Tirmidzi)
Karena bisa jadi, kalimat terakhir yang keluar dari lisan kita,
menentukan nasib kita selamanya.
"Barang siapa yang akhir ucapannya ‘La ilaha illallah’, maka ia masuk surga." (HR. Abu Dawud)
4. Memperbaiki hubungan dengan orang lain
Banyak orang rajin ibadah, tapi bangkrut di akhirat karena urusannya yang buruk dengan manusia. Dendam, fitnah, ghibah, dan kezaliman, semua itu akan diminta pertanggungjawaban.
Rasulullah saw bersabda : “Tahukah kalian siapa yang disebut orang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki dirham maupun harta benda. Lalu Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, tetapi dia juga datang dengan membawa dosa karena telah mencela orang ini, menuduh dan memfitnah orang itu, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang, dan memukul orang lain. Maka, akan diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya sebagian dari kebaikannya. Jika kebaikannya sudah habis sebelum seluruh tanggungannya terbayar, maka diambilkan dosa-dosa mereka (yang dizalimi) dan dibebankan kepadanya, lalu ia pun dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim).
Karena itu, sebelum terlambat, maafkanlah dan mintalah maaf.
"Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, hendaklah ia menyelesaikannya hari ini…" (HR. Bukhari)
5. Memperbanyak sedekah dan dakwah
Di usia senior, harta bukan lagi untuk dibanggakan tapi untuk bekal keselamatan di akhirat. Semua akan kita tinggalkan, kecuali yang kita sedekahkan.
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir…" (QS. Al-Baqarah: 261)
Rasulullah saw bersabda : "Harta seseorang yang sebenarnya adalah yang telah ia makan lalu habis, ia pakai lalu usang, atau ia sedekahkan lalu menjadi kekal." (HR. Muslim)
Yang kita simpan akan hilang, bahkan bisa menjadi sengketa di antara ahli waris. Yang kita sedekahkan itu justru yang abadi.
Dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda : "Jika manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga hal, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya." (HR. Muslim)
Selain bersedekah, perbanyaklah menyebar ilmu yang bermanfaat dengan berdakwah dan membina, termasuk berdakwah kepada anak agar mereka menjadi anak yang sholih.
6. Berkumpul dengan orang-orang saleh
Di usia tua, hati menjadi lebih rapuh. Lingkungan sangat mempengaruhi arah hidup kita. Maka carilah teman yang sholih, yang hobinya mengajak ngaji dan berbuat baik.
Jika kita dekat dengan orang yang lalai, kita akan ikut lalai. Namun jika kita dekat dengan orang-orang sholih, kita akan tertular kesholihan mereka.
"Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya…" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
"Teman yang baik seperti penjual minyak wangi, sedangkan teman yang buruk seperti pandai besi" (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka pilihlah teman…yang ketika kita melihatnya, kita ingat Allah.
7. Memperbanyak doa, memohon husnul khotimah
Jangan pernah merasa aman kita akan meninggal husnul khotimah. Sebab hati kita berada di antara jari-jari Allah. Ia bisa berubah kapan saja.
Itulah sebabnya Rasulullah saw menganjurkan kita banyak berdoa :
"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi)
Maka mintalah kepada Allah SWT agar saat sakaratul maut datang, kita mampu mengucapkan kalimat tauhid. Karena di situlah penentuan terakhir.
Sahabat…
Usia tua bukan waktu untuk santai tanpa arah…
tapi waktu untuk memperbaiki akhir.
Karena bisa jadi…
satu taubat di penghujung usia,
satu sujud yang tulus,
satu sedekah yang ikhlas…
menjadi sebab Allah mengampuni seluruh dosa kita.
Dan saat itu tiba…kita menginginginkan bahwa kitalah yang dipanggil Allah dengan kalimat berikut :
"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 27–30)