Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Berlumuran Nikmat Allah

·3 menit baca

By. Satria hadi lubis
KADANG aku berhenti sejenak, menatap hidupku dengan jujur. Lalu aku bertanya dalam hati : apa sebenarnya yang aku miliki dan pantas aku banggakan?
Jika aku melihat lebih dalam, aku sadar bahwa TIDAK ADA yang benar-benar milikku.
Nafas yang keluar masuk di dada ini bukan buatanku. Detak jantung yang setia bekerja siang dan malam bukan hasil usahaku. Mata yang bisa melihat, telinga yang bisa mendengar, kaki yang bisa melangkah, semuanya adalah pemberian Allah SWT.
Aku hanyalah seorang hamba yang BERLUMURAN NIKMAT Allah.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an :
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)
Ayat ini seperti cermin yang membuatku MALU. Betapa sering aku mengeluh, padahal nikmat yang menyelimutiku jauh LEBIH BANYAK daripada kesulitan yang pernah aku rasakan.
Aku diberi kehidupan ketika begitu banyak orang telah dipanggil pulang.
Aku diberi kesehatan ketika banyak orang harus berjuang melawan sakit.
Aku diberi kesempatan beribadah ketika banyak hati yang masih jauh dari Allah.
Bahkan ketika aku berbuat dosa, Allah masih menutup AIBKU. Ia tidak mempermalukanku di hadapan manusia. Ia memberiku waktu untuk kembali, memberi kesempatanku untuk BERTAUBAT.
Rasulullah saw bersabda :
"Sesungguhnya Allah itu begitu bergembira dengan taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan seseorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang telah hilang di suatu tanah yang luas.” (HR. Bukhari no. 6309 dan Muslim no. 2747).
Hadits ini menggambarkan betapa lembut dan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Maka ketika aku menyadari semua ini, aku mengerti satu hal : hidup ini bukan tentang apa yang berhasil aku kumpulkan, tetapi tentang BAGAIMANA aku mensyukuri nikmat yang telah Allah limpahkan.
Menurut Imam al-Qusyairi, hakikat syukur adalah pengakuan terhadap nikmat Allah yang dibuktikan dengan KETUNDUKKAN kepada-Nya. Sedang Imam al-Ghazali mengatakan, syukur itu terjadi jika kita menggunakan nikmat yang telah Allah berikan sesuai dengan tujuan dan RIDHO ALLAH SWT, bukan untuk kemaksiatan.
Jadi syukur bukan hanya ucapan di lisan. Syukur adalah ketika nikmat itu membuat hati SEMAKIN DEKAT kepada Allah SWT. Ketika mata digunakan untuk membaca Al-Qur’an. Ketika tangan digunakan untuk sedekah. Ketika ilmu membuat kita semakin banyak berdakwah. Ketika kedudukan membuat kita semakin bermanfaat bagi orang lain.
Karena sesungguhnya, seseorang tidak menjadi mulia karena banyaknya nikmat yang ia miliki, tetapi karena cara ia memperlakukan nikmat itu UNTUK KEBAIKAN orang banyak, sebagaimana firman-Nya :
"Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi." (Qs. 28 ayat 77)
Sampailah aku pada satu kesimpulan setiap kali aku merenung : AKU INI BUKAN SIAPA-SIAPA.
AKU HANYALAH SEORANG HAMBA yang berjalan di bumi Allah.
Seorang hamba yang setiap hari hidup dari karunia-Nya.
Seorang hamba yang BERLUMURAN NIKMAT Allah, tetapi masih SERING LUPA untuk bersyukur.
Ampuni aku....ya Allah.
Bagikan:WhatsApp