Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Bolehkah Terlalu Banyak Berzikir?

·3 menit baca

By. Satria hadi lubis
ADA nasihat yang sering kita dengar : jangan berlebihan. Berlebihan dalam makan merusak kesehatan, berlebihan dalam tidur membuat hidup lalai, bahkan dalam ibadah pun kita diajarkan keseimbangan agar tidak melampaui batas.
Namun ada satu amalan yang tidak pernah dilarang untuk diperbanyak. Satu ibadah yang justru diperintahkan untuk dilakukan sebanyak-banyaknya. Itulah zikir.
“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (Qs. 33 ayat 41)
Perintahnya jelas : sebanyak-banyaknya. Tidak ada batas maksimal, tidak ada angka yang dianggap terlalu banyak. Bahkan pada ayat lain Allah memuji laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada-Nya dan menjanjikan ampunan serta pahala yang besar bagi mereka (lihat Qs. 33 ayat 35).
Dalam banyak ibadah lain, ada batas yang harus dijaga. Shalat sunnah tidak boleh membuat seseorang meninggalkan kewajiban. Puasa sunnah tidak boleh membahayakan tubuh. Sedekah tidak boleh sampai menelantarkan keluarga. Tetapi zikir berbeda. Ia tidak pernah merugikan, tidak pernah membahayakan, tidak pernah menzalimi siapa pun. Mengapa? Karena zikir adalah makanan hati, dan hati tidak pernah rusak karena terlalu sering mengingat Allah.
Rasulullah saw menggambarkan orang yang berzikir dan yang tidak berzikir seperti orang hidup dan orang mati. Zikir menghidupkan jiwa yang kering, menguatkan hati yang rapuh, dan menenangkan pikiran yang gelisah.
“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan yang tidak bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari, no. 6407 dan Muslim, no. 779)
Allah SWT sendiri menegaskan dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28 : “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (berzikir) hati menjadi tenang.”
Ketenangan yang dicari manusia dalam harta, jabatan, dan pujian sering kali tidak bertahan lama. Namun ketenangan yang lahir dari zikir adalah ketenangan yang bersumber langsung dari hubungan dengan Sang Pencipta.
Indahnya lagi, zikir tidak terikat oleh tempat dan keadaan. Allah memuji orang-orang yang mengingat-Nya sambil berdiri, duduk, dan berbaring (Qs. 3 ayat 191). Artinya, seluruh hidup bisa menjadi ladang pahala. Di jalan, di kantor, di dapur, di kendaraan, bahkan di tempat tidur, lisan bisa tetap bergerak menyebut nama-Nya. Tidak perlu tempat khusus, tidak perlu suasana tertentu. Selama hati masih berdenyut, zikir bisa terus mengalir.
Maka jika ada yang berkata, “Kamu terlalu banyak berzikir,” semoga itu menjadi doa, bukan celaan. Sebab yang patut kita khawatirkan bukanlah terlalu banyak mengingat Allah, tetapi terlalu banyak mengingat selain Allah. Apakah itu wanita impian, cowok gebetan, benda yang diidamkan, hobi yang mengasyikan, sampai maksiat yang dicandu.
Dunia memang membuat kita mudah lupa untuk apa manusia diciptakan. Sementara zikir membuat kita selalu ingat siapa yang menggenggam hidup ini dan bagaimana agar hidup kita tenang.
Semoga lisan kita basah oleh tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar. Semoga hati kita hidup karena sering menyebut-Nya. Dan semoga ketika manusia sibuk mengejar dunia, kita termasuk hamba yang justru semakin banyak berzikir, semakin dekat, dan semakin tenang bersama Allah.

Bagikan:WhatsApp