Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Cara Mengoptimalkan 10 Hari Terakhir Ramadhan

·3 menit baca

By. Satria hadi lubis
RAMADHAN seperti tamu agung yang datang sebentar, lalu pergi tanpa bisa kita tahan. Dan sepuluh hari terakhir yang sebentar lagi tiba adalah detik-detik paling berharga dari seluruh kunjungannya. Di situlah puncak rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka Allah hamparkan.
Di sepuluh malam terakhir itu, Nabi Muhammad saw tidak lagi beribadah seperti biasanya. Aisyah radhiyallahu ‘anha bercerita, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya. Artinya, beliau tidak ingin ada satu pun detik berharga yang terlewat sia-sia.
Mengapa 10 hari terakhir Ramadhan begitu istimewa?
Karena di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang nilainya lebih dari delapan puluh tiga tahun ibadah. Malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai Lailatul Qadar. Tidak ada yang tahu pasti malam keberapa ia hadir. Justru di situlah rahasianya, yaitu agar kita bersungguh-sungguh di setiap malam.
Lalu bagaimana cara mengoptimalkannya?
Pertama, luruskan niat.
Siapkan mental sejak sekarang. Jangan menunggu dikondisikan. Jangan menunggu semangat. Niatkan bahwa sepuluh malam itu adalah kesempatan terakhir. Karena siapakah yang bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan tahun depan?
Kedua, sempatkan waktu untuk i'tikaf.
Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan i'tikaf di sepuluh hari terakhir. Jika kita tak bisa i'tikaf di mesjid 10 hari, maka upayakan i'tikaf di malam-malam ganjil dimana kemungkinan besar lailatur qadr akan hadir.
Ketiga, hidupkan malam dengan qiyamul lain.
Tidak harus panjang, tidak harus berlinangan air mata. Berdirilah walau hanya beberapa rakaat, tapi dengan hati yang sadar bahwa kita sedang menghadap Allah.
Keempat, perbanyak doa.
Ada doa yang diajarkan Rasulullah saw untuk malam-malam itu. Doa memohon ampunan kepada Allah yang Maha Pemaaf. Karena bisa jadi yang paling kita butuhkan bukan panjang umur, bukan luas rezeki, tapi dosa yang dihapuskan.
Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah saw, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasulullah saw, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf, karenanya maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850)
Kelima, mendekatkan diri kepada Al-Qur’an (taqorub bil Qur'an)
Sepuluh malam terakhir bukan waktu untuk santai, justru waktu untuk menambah kedekatan dengan al Qur'an. Walau hanya beberapa ayat, bacalah dengan hati yang khusyu' dan ingin dituntun.
Keenam, kurangi kesibukan dunia.
Tidak semua hal harus ditanggapi. Tidak semua undangan harus dihadiri. Sepuluh malam ini terlalu mahal untuk ditukar dengan hal-hal yang bisa menunggu. Dan jangan lupa, bangunkan keluarga. Ramadhan bukan ibadah pribadi semata. Ia adalah momentum menyelamatkan orang-orang yang kita cintai.
Ketujuh, tunda pulang kampung.
Sebaiknya pulang kampung setelah Ramadhan usai. Ini agar nilai ibadah pada 10 hari terakhir Ramadhan tidak rusak. Pulang kampung dengan bermacet ria atau sibuk dengan beli ini dan itu untuk oleh-oleh di kampung membuat hilangnya kekhusyukan ibadah.
Sepuluh malam terakhir adalah garis akhir. Banyak orang kuat di awal Ramadhan, tapi melemah di akhir. Padahal justru di akhir inilah hadiah terbesar disimpan.
Bayangkan jika satu malam itu benar-benar kita dapatkan.
Bayangkan jika dosa bertahun-tahun diampuni dalam satu malam.
Bayangkan jika hidup kita berubah karena satu sujud yang tulus.
Ramadhan akan pergi. Lampu-lampu masjid akan kembali redup seperti biasa di waktu malam. Tapi semoga sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan tahun ini meninggalkan cahaya yang tidak ikut padam di hati kita.
Karena yang paling kita takutkan bukan Ramadhan yang berlalu. Tapi Ramadhan yang berlalu tanpa perubahan apa-apa dalam diri kita.

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya