Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Generasi Muda, Peserta Terbanyak I’Tikaf

·3 menit baca

By. Satria hadi lubis
BEBERAPA malam terakhir Ramadhan ini, ada pemandangan yang sangat menggembirakan di banyak masjid. Masjid-masjid dipenuhi orang yang beri’tikaf. Mereka datang membawa sajadah, mushaf Al-Qur’an, dan bekal sederhana untuk bermalam di rumah Allah. Namun ada satu hal yang menarik perhatian. Peserta terbanyak justru datang dari generasi muda.
Gen Z dan milenial yang sering dianggap sebagai generasi gadget, generasi media sosial, generasi yang katanya jauh dari agama, ternyata justru memenuhi masjid-masjid pada malam-malam terakhir Ramadhan.
Mereka duduk membaca Al-Qur’an.
Mereka berzikir pelan di sudut-sudut masjid.
Mereka menunggu waktu sahur sambil berdoa dan bermuhasabah.
Sebagian bahkan menghabiskan malam dengan shalat panjang ketika kebanyakan orang masih tertidur.
Pemandangan ini membuat hati bertanya dengan penuh harap : Pertanda apakah ini?
Mungkin ini pertanda bahwa fitrah iman generasi muda sebenarnya masih sangat kuat. Di tengah dunia yang bising, hiruk pikuk media sosial, tekanan hidup, dan kegelisahan zaman, ternyata banyak anak muda yang justru mencari ketenangan di masjid.
Mereka datang bukan karena dipaksa, tetapi karena kesadaran pribadi untuk mendekat kepada Allah. Barangkali ini pertanda bahwa kebangkitan Islam sedang tumbuh pelan-pelan dari generasi muda.
Rasulullah saw bersabda bahwa di antara tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah “pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.” (HR. Bukhari)
Bayangkan jika pemuda-pemuda yang kita lihat i’tikaf di masjid-masjid adalah bagian dari golongan itu. Pemuda yang hari ini tidur di masjid, membaca Al-Qur’an, menangis dalam doa, dan mencari Lailatul Qadr, mereka bisa jadi adalah pemimpin, ulama, pengusaha, dan penggerak umat di masa depan.
Karena sejarah selalu menunjukkan satu hal : kebangkitan besar sering dimulai dari anak-anak muda yang dekat kepada Allah. Mereka siap menjalankan perintah Allah dan mendakwahkannya.
Lihatlah Ali bin Abu Tholib ra, menantu Nabi saw, yang menghabiskan banyak waktunya di masjid Nabawi dan kelak menjadi khalifah. Atau Abdullah bin Umar ra, sahabat Nabi saw yang ahli ibadah dan hadits. Ibnu Umar contoh pemuda yang "betah" di masjid. Ia sering tidur di masjid saat masa mudanya hanya untuk menunggu waktu salat dan mendengar hadits.
Lihat juga penakluk Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih.
Meskipun ia seorang sultan, kebangkitannya didasari oleh didikan spiritual yang kental di masjid dan madrasah. Sejak kecil, ia dididik oleh Syekh Ak Syamsuddin untuk mencintai masjid dan Al-Qur'an.
Maka ketika kita melihat masjid dipenuhi oleh Gen Z dan milenial yang beri’tikaf, jangan hanya melihat keramaiannya.
Lihatlah itu sebagai tanda harapan. Bahwa di tengah segala kegelisahan zaman, masih banyak anak muda yang memilih bersujud dalam bahagia.
Dan mungkin, dari sajadah-sajadah yang digelar di masjid-masjid dalam i'tikaf di berbagai masjid, Allah SWT sedang menyiapkan generasi penerus yang akan menjaga agama ini di masa depan.
"Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk." (Qs. Al Kahfi ayat 13)
Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya