Kembali ke artikel
Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qadr
·3 menit baca
By. Satria hadi lubis
RAMADHAN adalah bulan yang penuh rahasia indah dari Allah. Di dalamnya ada satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Malam itu adalah Lailatul Qadr, malam yang begitu agung hingga Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an.
Namun ada satu hal yang menarik, yaitu Allah SWT tidak memberitahukan secara pasti kapan malam itu terjadi. Rasulullahsaw juga hanya memberi petunjuk bahwa Lailatul Qadr berada di sepuluh malam terakhir Ramadhan, khususnya pada malam-malam ganjil. Tetapi tanggal pastinya tidak pernah diberitahu.
Mengapa Allah merahasiakan malam yang begitu mulia itu?
Di situlah letak hikmah yang sangat dalam. Seandainya Lailatul Qadr diketahui secara pasti, mungkin manusia hanya akan bersungguh-sungguh beribadah pada satu malam itu saja. Mereka akan menunggu tanggalnya, lalu beribadah semalam penuh, setelah itu kembali lalai di malam-malam lainnya.
Namun karena ia dirahasiakan, seorang mukmin terdorong untuk menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadhan.
Ia memperbanyak shalat malam.
Ia memperbanyak membaca Al-Qur’an.
Ia memperbanyak doa dan istighfar.
Ia memperbanyak sedekah dan amal kebaikan.
Dengan demikian, bukan hanya satu malam yang hidup, tetapi banyak malam yang dipenuhi ibadah.
Inilah cara Allah mendidik hati hamba-Nya.
Allah ingin melihat siapa yang benar-benar bersungguh-sungguh mencari ridha-Nya. Siapa yang tekun mengetuk pintu langit berulang-ulang. Siapa yang terus berharap walau tidak tahu kapan tepatnya malam kemuliaan itu datang.
Kerinduan kepada Lailatul Qadr membuat seorang mukmin tidak ingin menyia-nyiakan satu pun malam di penghujung Ramadhan.
Ia beribadah dengan harapan. Mungkin malam ini Lailatul Qadr. Jika bukan, ia akan berkata lagi : Mungkin malam berikutnya. Harapan itu membuat hatinya hidup.
Dirahasiakannya Lailatul Qadr juga mengajarkan bahwa dalam hidup ini banyak keberkahan yang tidak selalu tampak jelas. Kadang Allah menyembunyikan sesuatu yang sangat besar nilainya agar manusia bersungguh-sungguh mencarinya.
Seperti Allah merahasiakan waktu kematian agar manusia selalu bersiap.
Allah merahasiakan siapa wali-Nya agar manusia menghormati semua orang.
Allah merahasiakan mengapa kita mendapat ujian yang kebaikannya baru terungkap di kemudian hari.
Dan Allah merahasiakan Lailatul Qadr agar manusia sungguh-sungguh beribadah di setiap malam.
“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran.” (QS. Al-Baqarah: 269)
Pada akhirnya, yang paling beruntung bukan hanya orang yang “tepat” mendapatkan malam itu, tetapi orang yang bersungguh-sungguh mencarinya.
Karena dalam proses pencarian itulah hati menjadi lembut, dosa-dosa berguguran, dan hubungan dengan Allah menjadi lebih dekat.
Maka ketika sepuluh malam terakhir Ramadhan datang, janganlah kita bersantai. Jangan pula merasa cukup dengan ibadah yang sedikit. Hidupkan malam-malam itu dengan shalat, Al-Qur’an, doa, dan tangisan taubat.
Siapa tahu, di antara malam yang kita bangun dengan penuh harap itu, ternyata itulah malam yang nilainya lebih baik daripada ibadah seribu bulan.
Betapa ruginya orang yang melewati sepuluh malam terakhir Ramadhan dalam kelalaian. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Lailatul Qadr, menerima amal kita, dan menjadikan Ramadhan ini sebagai Ramadhan terbaik yang mengubah hidup kita selamanya. Aamiin.
Bagikan:WhatsApp