Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Jaga Silaturahim, Walau Kaya Atau Miskin

·3 menit baca

By. Satria hadi lubis
ADA satu penyakit hati yang sering tidak kita sadari, yaitu hubungan kita dengan orang lain berubah ketika keadaan mereka berubah.
Ketika seseorang sukses, kaya, memiliki jabatan, rumah besar, atau usaha yang maju, tiba-tiba banyak orang ingin dekat. Telepon menjadi lebih sering. Undangan datang silih berganti. Senyum terasa lebih ramah.
Namun ketika orang itu jatuh, usahanya bangkrut, penghasilannya menurun, atau hidupnya menjadi sederhana, hubungan yang dulu hangat perlahan menjadi dingin. Telepon tak lagi berdering. Undangan tak lagi datang. Bahkan sekadar menyapa pun terasa berat.
Padahal dalam Islam, silaturahim tidak boleh ditimbang dengan harta.
Silaturahim bukan hubungan bisnis. Ia bukan kedekatan yang lahir karena manfaat dunia. Silaturahim adalah ibadah hati.
Al-Qur'an mengingatkan:
"Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu... dan peliharalah hubungan silaturahim."
(QS. An-Nisa: 1)
Perintah menjaga silaturahim datang bersama perintah bertakwa. Artinya, hubungan dengan manusia adalah bagian dari hubungan kita dengan Allah.
Karena itu, silaturahim tidak boleh berubah hanya karena perubahan keadaan dunia seseorang.
Hari ini ia kaya, kita datang.
Besok ia miskin, kita menghilang.
Hari ini ia pejabat, kita hormati.
Besok ia tidak punya jabatan, kita tidak lagi peduli.
Hubungan seperti ini bukan silaturahim, melainkan transaksi sosial.
Padahal Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa silaturahim yang sejati bukanlah sekadar membalas kebaikan orang lain.
"Bukanlah orang yang menyambung silaturahim itu yang hanya membalas hubungan. Tetapi yang benar-benar menyambung silaturahim adalah orang yang tetap menyambung ketika hubungan itu diputus." (HR. Bukhari)
Maknanya sangat dalam. Silaturahim yang sejati diuji ketika tidak ada keuntungan dunia. Ketika orang yang kita datangi tidak memberi apa-apa. Ketika hubungan itu tidak membuat kita lebih kaya, lebih terkenal, atau lebih dihormati. Justru di situlah nilai ibadahnya.
Orang yang kaya membutuhkan sahabat yang tulus, bukan orang yang datang karena hartanya.
Orang yang miskin lebih membutuhkan kehadiran sahabat, karena di saat sulit banyak orang menjauh.
Jika kita hanya dekat dengan orang kaya, hati kita sedang belajar mencintai dunia. Tetapi jika kita tetap menjaga hubungan dengan orang miskin, hati kita sedang belajar mencintai manusia karena Allah.
Silaturahim yang tulus tidak melihat isi dompet, tetapi melihat nilai persaudaraan.
Hari ini kita mungkin berada di atas.
Besok bisa saja kita berada di bawah.
Dunia berputar dengan cepat.
Karena itu jangan memilih teman berdasarkan kekayaan.
Jangan memutus hubungan hanya karena seseorang tidak lagi memiliki apa-apa.
Boleh jadi di hadapan manusia ia terlihat biasa saja, tetapi di hadapan Allah derajatnya sangat tinggi.
Boleh jadi ia tidak memiliki harta, tetapi doanya lebih dekat ke langit.
Menjaga silaturahim dengan orang kaya itu mudah. Banyak manfaat yang bisa diharapkan.
Tetapi menjaga silaturahim dengan orang miskin, orang yang sedang jatuh, atau orang yang tidak memiliki apa-apa, itulah tanda hati yang bersih.
Dan yang lebih indah lagi, Nabi saw mengajarkan bahwa silaturahim bukan hanya soal hubungan sosial, tetapi juga membawa keberkahan hidup.
"Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jangan putuskan hubungan hanya karena dunia.
Tetaplah menyapa.
Tetaplah mengunjungi.
Tetaplah mendoakan.
Baik ketika seseorang berada di puncak kejayaan, maupun ketika ia sedang berada di titik terendah kehidupannya.
Karena di hadapan Allah, nilai persaudaraan tidak diukur dari kekayaan, tetapi dari ketulusan hati.

Bagikan:WhatsApp