Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Jalan Pintas Menuju Ridho Allah

·2 menit baca

Di sebuah kota kecil, hiduplah seorang pemuda bernama Yusuf. Ia bukan orang kaya, bukan pula orang terpandang. Hidupnya sederhana, bekerja sebagai buruh angkut di pasar, mengandalkan tenaga untuk menyambung hidup.


Namun Yusuf memiliki satu hal yang membuatnya berbeda : baktinya pada ibu. Ibunya sudah tua, lumpuh, dan hampir tak bisa melihat. Setiap hari, Yusuf menggendongnya. Bukan hanya untuk ke kamar mandi atau berpindah tempat, tapi juga untuk berwudhu, bahkan kadang untuk shalat.


Setiap subuh, sebelum berangkat kerja, Yusuf akan menghangatkan air, lalu dengan penuh kelembutan membasuh wajah ibunya.


“Pelan-pelan ya, Bu… airnya hangat…” katanya lirih.

Ibunya hanya bisa terharu. “Maafkan Ibu yang merepotkanmu…”

Yusuf tersenyum, “Justru Yusuf takut… belum cukup membalas semua jasa Ibu…”


Hari-hari Yusuf berat. Ia bekerja seharian, pulang dengan tubuh lelah, tapi tak pernah ia tinggalkan ibunya. Ia suapi makan, ia bersihkan tubuhnya, bahkan ia sering tertidur di samping ranjang ibunya, hanya untuk memastikan ibunya tidak butuh apa-apa di tengah malam.


Suatu hari, seorang temannya berkata, “Yusuf… kamu ini masih muda. Hidupmu habis hanya untuk merawat ibumu. Kapan kamu menikah? Kapan kamu hidup untuk dirimu sendiri?”


Yusuf terdiam sejenak. Lalu ia berkata pelan, “Aku sedang hidup untuk masa depanku… tapi bukan di dunia… di akhirat.”


Beberapa tahun berlalu.

Suatu malam, kondisi ibunya semakin lemah. Nafasnya tersengal. Yusuf panik, ia pegang tangan ibunya erat-erat.

“Bu… jangan pergi dulu… Yusuf belum bisa membahagiakan Ibu…”


Ibunya menatapnya dengan mata yang mulai redup. “Tidak… kau sudah membahagiakan Ibu… sejak kau lahir…”


Air mata Yusuf jatuh deras.

Dengan sisa tenaga, ibunya mengangkat tangannya, mendoakan: “Ya Allah… jika anakku ini belum cukup berbuat untukku… maka cukupkanlah aku sebagai saksi… bahwa ia adalah anak yang berbakti…”


Tak lama setelah itu… ibunya menghembuskan nafas terakhir. Yusuf menangis seperti anak kecil. Namun sejak hari itu, hidupnya berubah.


Pintu rezekinya mulai terbuka lebar. Orang-orang makin mempercayainya, menghormatinya. Seolah-olah ada keberkahan yang tak terlihat mengalir dalam hidupnya.


Suatu hari, seorang ulama berkata kepadanya, “Doa seorang ibu adalah jalan pintas menuju ridha dan pertolongan Allah.”


Yusuf tersenyum… meski matanya basah.

Karena ia tahu…

Selama ini, ia bukan sedang mengurus ibunya.

Ia sedang membangun jalannya sendiri menuju surga.


Berbakti kepada orang tua bukan tentang balas jasa, karena jasa mereka tak akan pernah terbalas.

Ini adalah tentang cinta, kesabaran, dan harapan…

agar Allah meridhai hidup kita, melalui ridha kedua orang tua kita.

Bagikan:WhatsApp