Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Kita Kurang Militan Dalam Berjuang

·3 menit baca

ADA satu hal yang perlu kita akui dengan jujur, bahwa kita ini lemah dalam berjuang. Bukan karena tidak tahu arah, tapi karena tidak cukup kuat melangkah.


Kita ingin perubahan, tapi tidak siap dengan proses. Kita ingin hasil besar, tapi enggan membayar harga yang setimpal. Kita ingin Islam tegak dalam kehidupan, tapi diri sendiri saja belum sungguh-sungguh taat kepada Allah SWT.


Allah sudah menegaskan bahwa jalan ini memang menuntut perjuangan :


“Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan digoncang (dengan berbagai cobaan)…” (QS. Al-Baqarah: 214)


Ayat ini seperti tamparan halus. Surga itu mahal. Ia tidak diberikan kepada orang yang santai. Ia diperuntukkan bagi mereka yang berjuang, yang tetap berjalan meski lelah, tetap taat meski berat, dan tetap istiqamah meski godaan begitu dekat.


Masalahnya, kita sering ingin berjuang, tapi hanya ketika mudah. Kita semangat di awal, tapi cepat redup di tengah jalan. Kita kuat saat dilihat orang, tapi melemah saat sendirian. Kita lantang dalam wacana, tapi lemah dalam aksi.


Padahal ukuran perjuangan itu bukan pada seberapa besar yang kita ucapkan, tapi seberapa konsisten yang kita lakukan. Rasulullah saw bersabda: 


“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadits ini menegaskan bahwa militansi dalam Islam bukan sekadar ledakan semangat sesaat, tapi ketahanan dalam konsistensi. Terus berjalan, meski pelan. Terus beramal, meski kecil. Terus taat, meski tidak dilihat siapa pun.


Lihatlah para sahabat. Mereka bukan manusia tanpa rasa lelah. Tapi mereka punya satu hal yang kita sering kehilangan : kesungguhan yang tidak setengah-setengah.

Mereka berjuang dengan harta, waktu, tenaga, bahkan jiwa. Mereka tidak menunggu “mood” untuk taat. Mereka tidak menunggu “situasi ideal” untuk bergerak. Karena bagi mereka, ketaatan bukan pilihan. Ia adalah kebutuhan.


Allah SWT menggambarkan karakter orang beriman :


“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah…” (QS. Al-Hujurat: 15)


Tidak ragu. Tidak mundur. Tidak setengah hati.


Bandingkan dengan kita hari ini...

Baru diuji sedikit, sudah ingin berhenti. Baru lelah sedikit, sudah ingin istirahat panjang. Baru tidak dihargai, sudah kehilangan semangat.


Kita terlalu mudah menyerah dalam perjuangan yang seharusnya kita muliakan. Padahal perjuangan ini bukan tentang manusia. Ini tentang Allah. Ini tentang kesejahteraan. Ini tentang kehidupan yang jauh lebih panjang dari sekadar dunia yang singkat ini.


Kurangnya militansi membuat kita mudah tergoda oleh kenyamanan. Kita lebih memilih rebahan daripada bergerak. Lebih memilih diam daripada berdakwah dan membina. Lebih memilih aman daripada benar. Padahal Allah telah memerintahkan :


“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…” (QS. Al-Ankabut: 69)


Janji Allah jelas. Hidayah itu datang kepada mereka yang mau berjuang. Bukan kepada mereka yang hanya menunggu.

Maka, jika hari ini kita merasa iman kita stagnan, amal kita biasa saja, dan hidup kita tidak banyak berubah, boleh jadi masalahnya bukan pada kurangnya ilmu, tapi kurangnya militansi dalam berjuang.


Saatnya kita bangkit!

Paksa diri untuk lebih disiplin. Lawan rasa malas. Tahan keinginan yang tidak perlu. Biasakan diri untuk tetap bergerak, meski tidak ada yang menyemangati.

Karena sejatinya, orang yang berjuang tidak selalu kuat. Tapi mereka memilih untuk tetap berjalan, meski dalam keadaan lemah.


Dan ingatlah, sedikit tapi konsisten, lebih dicintai Allah daripada banyak tapi terputus.

Jangan tunggu sempurna untuk mulai berjuang. Jangan tunggu ringan untuk bergerak. Jangan tunggu dihargai untuk beramal.


Mulailah sekarang...

Karena bisa jadi, yang membedakan kita dengan generasi terbaik bukan pada ilmu yang kita miliki, tapi pada militansi dalam memperjuangkannya.

Bagikan:WhatsApp