Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Malu Kepada Allah Jika Berebut Dunia

·3 menit baca

BETAPA anehnya manusia. Untuk urusan dunia, kita bisa begitu bersemangat, bahkan saling sikut, saling mendahului, saling menjatuhkan. Jabatan diperebutkan, harta dikejar mati-matian, pengakuan dicari tanpa henti. Tapi ketika urusan akhirat datang, justru banyak yang mundur, menunda, atau sekadar menjalankan ala kadarnya.


Di sinilah seharusnya rasa malu itu hadir. Malu kepada Allah.


Bagaimana mungkin kita begitu ambisius terhadap sesuatu yang fana, sementara kita santai terhadap sesuatu yang kekal? Allah SWT mengingatkan: "Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba dalam kekayaan dan anak..." (QS. Al-Hadid: 20...)


Ayat ini bukan melarang kita memiliki dunia, tapi menegur ketika dunia menjadi pusat ambisi. Ketika dunia membuat kita lupa arah, lupa tujuan, bahkan lupa kepada Allah.


Rasulullah saw bersabda: "Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian, tetapi aku khawatir dunia akan dibentangkan untuk kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, hingga ia membinasakan kalian sebagaimana ia membinasakan mereka." (HR. Bukhari dan Muslim)


Berebut dunia bukan hanya melelahkan, tapi juga berbahaya. Ia bisa merusak hati, mematikan keikhlasan, bahkan memutus persaudaraan. Yang tadinya saudara bisa menjadi pesaing. Yang tadinya ikhlas bisa berubah menjadi penuh ambisi pribadi.


Seorang mukmin seharusnya memiliki rasa malu yang tinggi kepada Allah. Malu jika lebih sibuk mengejar dunia daripada memperbaiki ibadah. Malu jika lebih cepat merespons peluang bisnis daripada panggilan adzan. Malu jika lebih gelisah kehilangan uang daripada kehilangan waktu untuk beramal.


Para ulama mengatakan, “Malu kepada Allah adalah engkau tidak menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya.” Lalu bagaimana dengan orang yang menggunakan waktu, tenaga, bahkan hidupnya —yang semuanya adalah nikmat Allah— untuk berebut dunia tanpa memedulikan akhirat?


Bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Tidak. Islam tidak mengajarkan hal itu. Tapi Islam mengajarkan keseimbangan, bahkan prioritas. Dunia di tangan, bukan di hati.


Seorang muslim tetap bekerja, tetap mencari nafkah, tetap berusaha sukses. Tapi hatinya tidak tergantung pada dunia. Ia tidak akan menghalalkan segala cara. Ia tidak akan mengorbankan akhirat demi dunia.


Ali bin Abi Thalib ra berkata: "Dunia akan pergi menjauh, dan akhirat akan datang mendekat. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi anak-anak dunia."


Maka jika hari ini kita masih suka berebut dunia, masih iri melihat keberhasilan orang lain, masih merasa harus selalu lebih dari orang lain dalam urusan materi, maka tanyakan pada diri sendiri : Dimana rasa malumu kepada Allah?


Karena pada akhirnya, yang akan kita bawa pulang bukan harta, bukan jabatan, bukan pujian manusia, tapi amal. Dan sungguh, akan sangat memalukan. Jika kita datang menghadap Allah dengan tangan kosong, setelah seumur hidup sibuk berebut sesuatu yang tidak pernah benar-benar kita miliki. 

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya