Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Menangismu Untuk Apa?

·3 menit baca

By. Satria hadi lubis
ADA kalanya dinamika kehidupan membuat kita menangis.
Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Dada terasa sesak, hati terasa berat, dan dunia seolah runtuh di depan kita.
Kita menangis ketika kehilangan sesuatu yang kita cintai.
Menangis ketika harapan tidak menjadi kenyataan.
Menangis ketika hati disakiti.
Menangis ketika usaha terasa sia-sia.
Dan itu manusiawi.
Allah menciptakan air mata sebagai jalan keluar bagi hati yang terlalu penuh.
Tetapi pernahkah kita merenung sejenak… lalu bertanya kepada diri sendiri dengan jujur :
Selama hidup ini, sebenarnya aku lebih sering menangis untuk apa?
Banyak orang menangis karena kehilangan uang.
Menangis karena kehilangan jabatan.
Menangis karena kehilangan orang yang dicintai.
Menangis karena dunia tidak berjalan sesuai keinginannya.
Namun sangat sedikit yang menangis karena dosa-dosanya.
Padahal dosa-dosa itulah yang akan kita bawa kelak menghadap Allah SWT.
Betapa anehnya manusia.
Ia bisa menangis berhari-hari karena kehilangan dunia,
tetapi hampir tak pernah menangis karena kehilangan kedekatan dengan Rabb-nya.
Betapa sering kita menangis karena manusia menyakiti kita,
tetapi kita tidak pernah menangis karena kita telah menyakiti Allah dengan maksiat yang kita lakukan.
Padahal setiap hari Allah memberi kita begitu banyak nikmat.
Nafas yang kita hirup…
Tubuh yang masih bisa bergerak…
Keluarga yang masih bersama kita…
Kesempatan hidup yang masih Allah beri…
Namun sering kali semua itu kita jalani tanpa rasa syukur yang dalam.
Buktinya...
Dosa kita bertambah, tetapi hati kita tetap tenang.
Lalai kita semakin banyak, tetapi mata kita tetap kering.
Padahal orang-orang yang hatinya hidup justru mudah menangis.
Mereka menangis ketika mengingat dosa.
Mereka menangis ketika membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Mereka menangis karena takut tidak diterima amalnya.
Mereka menangis karena takut berdiri di hadapan Allah dengan tangan kosong.
Para sahabat Rasulullah saw adalah manusia-manusia yang hatinya paling hidup.
Umar bin Khattab, seorang pemimpin yang ditakuti musuh-musuhnya, pernah menangis begitu lama ketika membaca ayat tentang azab hingga sakit berhari-hari.
Abu Bakar ash-Shiddiq dikenal memiliki hati yang sangat lembut. Ketika membaca Al-Qur’an dalam shalat, suaranya sering terputus oleh tangisan.
Mereka bukan orang lemah.
Mereka adalah manusia yang paling kuat imannya.
Tangisan mereka bukan karena dunia.
Tangisan mereka karena takut kepada Allah SWT.
Rasulullah saw bersabda bahwa ada mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah.
"Tidak akan disentuh api neraka kecuali dua mata, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang tetap terjaga di jalan Allah.” (HR Tirmidzi).
Namun betapa sering mata kita kering dari tangisan seperti itu.
Kita bisa menangis karena film sedih.
Kita bisa menangis karena cerita yang menyentuh.
Tetapi ketika membaca ayat Al-Qur’an, hati kita terasa biasa saja.
Seakan-akan ayat itu tidak berbicara kepada kita.
Padahal suatu hari nanti kita akan berdiri sendirian di hadapan Allah.
Tidak ada jabatan...
Tidak ada harta....
Tidak ada pengikut...
Tidak ada kehormatan dunia...
Yang ada hanya amal.
Dan pada hari itu, banyak manusia yang menyesal sambil menangis.
Namun tangisan pada hari itu sudah tak lagi berguna.
Karena itu sebelum tangisan penyesalan datang di akhirat, alangkah baiknya jika kita belajar menangis sekarang.
Menangis karena dosa.
Menangis karena kelalaian.
Menangis karena selama ini kita terlalu sibuk dengan dunia dan terlalu sedikit mengingat Allah.
Sekaranglah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri :
Selama ini… aku menangis untuk apa?
Bagikan:WhatsApp