Kembali ke artikel
Menguji Keikhlasan Dengan Berdakwah Dan Membina
·3 menit baca
By. Satria hadi lubis
BERDAKWAH itu indah. Mengajak orang kepada Allah, berbicara tentang surga, mengingatkan tentang akhirat, membina manusia agar lebih taat, semuanya terdengar mulia. Tapi kenyataannya, berdakwah adalah salah satu cara Allah untuk menguji keikhlasan kita.
Sebab saat kita berdakwah dan membina, kita akan berhadapan dengan banyak hal yang tidak nyaman. Tidak semua orang akan mendengar. Tidak semua orang akan berubah. Tidak semua orang akan berterima kasih.
Bahkan, bisa jadi orang yang kita bina justru lebih dekat dengan orang lain. Bisa jadi yang kita ajak, justru meninggalkan kita. Bisa jadi yang dulu belajar dari kita, kini mengkritik kita. Di situlah keikhlasan diuji.
Allah berfirman:
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” (QS. 41 ayat 33)
Ayat ini bukan hanya tentang kemuliaan berdakwah. Ia juga tentang kemurnian niat. Karena menyeru kepada Allah berarti menyeru kepada-Nya, bukan menyeru kepada diri sendiri. Bukan mengajak orang kagum kepada kita. Bukan membangun citra.
Ikhlas itu sunyi. Ia tidak ribut ketika tidak dipuji. Ia tidak patah ketika tidak dihargai. Ia tidak marah ketika dilupakan.
Rasulullah saw berdakwah selama 13 tahun di Makkah.
Hasilnya? Hanya segelintir orang yang beriman. Namun beliau tidak pernah mengeluh. Karena target beliau bukan angka. Target beliau adalah ridha Allah.
Sering kali kita merasa lelah membina. Sudah diingatkan berkali-kali, masih juga lalai. Sudah diajak halaqah, masih juga sibuk dunia. Sudah ditelpon, masih juga sulit hadir.
Lalu hati mulai berbisik: “Untuk apa aku capek-capek?” “Kenapa cuma aku yang peduli?”
Di saat itulah Allah sedang membersihkan niat kita. Apakah kita berdakwah karena ingin dipandang penting?Atau karena ingin Allah melihat usaha kita? Imam besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal pernah diuji dengan penolakan, penjara, dan siksaan. Tapi beliau tetap menyampaikan kebenaran. Karena dakwah bukan tentang nyaman, tapi tentang amanah.
Membina manusia bukan pekerjaan instan. Ia seperti menanam pohon. Kita mungkin tidak sempat menikmati buahnya. Bisa jadi yang memetik adalah generasi setelah kita. Dan itu tidak mengapa. Karena tugas kita hanya menanam. Yang menumbuhkan adalah Allah SWT.
Ikhlas dalam dakwah berarti siap bekerja tanpa tepuk tangan. Siap memberi tanpa disebut. Siap dicintai tanpa memiliki. Kita lebih sedih kehilangan posisi di hati manusia daripada kehilangan kedekatan dengan Allah.
Berdakwah itu bukan sekedar panggung. Ia adalah ladang pahala yang sering kali sunyi. Membina itu bukan tentang mengikat orang agar setia pada kita. Ia tentang mengantarkan mereka agar setia pada Allah. Dan jika suatu hari orang yang kita bina pergi, tetap doakan. Karena mungkin doa kita yang diam itu lebih bernilai daripada nasihat panjang yang pernah kita sampaikan.
Maka teruslah berdakwah....
Teruslah membina.
Bukan karena manusia.
Bukan karena nama.
Bukan karena pengakuan.
Tapi karena kita ingin ketika bertemu Allah nanti, kita bisa berkata dengan jujur: “Ya Allah, aku termasuk hamba yang mengajak kepada-Mu. Meski sedikit, meski tersembunyi, tapi aku berusaha... ya Allah. Semoga Engkau menerima amalku."
Bagikan:WhatsApp