Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Mungkin Saja Kebangkitan Islam Dihasung Oleh Kaum Perempuan

·3 menit baca

KETIKA orang berbicara tentang kebangkitan Islam, biasanya yang terbayang adalah para ulama, dai, pemimpin, atau para pemuda yang bergerak di berbagai bidang. Jarang sekali orang membayangkan satu hal, yakni

peran besar kaum perempuan.


Padahal jika kita membuka sejarah Islam, kita akan menemukan bahwa di balik banyak kebangkitan, perempuan sering menjadi penggerak yang sunyi namun sangat kuat.


Lihatlah di awal dakwah Islam. Orang pertama yang menenangkan Rasulullah saw ketika pulang dari Gua Hira dalam keadaan menggigil adalah Khadijah ra, istri tercinta Nabi saw. Khadijah ra bukan hanya istri yang setia, tetapi juga penopang dakwah, pemberi semangat, dan penyokong dengan hartanya. Tanpa dukungan Khadijah, perjalanan dakwah di masa-masa awal tentu jauh lebih berat.


Kemudian ada Sumayyah binti Khayyat ra, ibunda Ammar bin Yasir ra, perempuan dan orang pertama yang syahid dalam Islam. Ia menunjukkan bahwa iman tidak mengenal lemah, bahkan ketika harus menghadapi penyiksaan.


Ada pula Aisyah ra, istri Nabi saw, yang menjadi sumber ilmu bagi umat ini. Ribuan hadits diriwayatkan darinya, dan para sahabat besar pun datang belajar kepadanya.


Sejarah itu memberi satu pesan penting : perempuan bukan sekadar pelengkap peradaban, tetapi juga penggeraknya.


Hari ini kita melihat sesuatu yang menarik. Di banyak liqo' (majelis ilmu), di kajian-kajian masjid, di kelas-kelas tahfizh, bahkan di gerakan sosial kemasyarakatan, jumlah perempuan sering kali sangat besar. Bahkan di beberapa tempat, jumlahnya lebih banyak dari kaum lelaki.


Banyak ibu-ibu yang tekun belajar agama. Banyak muslimah muda yang berusaha menjaga hijabnya, memperbaiki akhlaknya, dan mendalami Al-Qur’an.


Mereka mungkin tidak selalu tampil di mimbar. Tidak selalu menjadi tokoh yang dikenal luas. Namun dari tangan mereka lahir generasi baru.


Seorang ibu yang mencintai Al-Qur’an akan menanamkan cinta itu kepada anak-anaknya.

Seorang perempuan yang kuat imannya akan melahirkan rumah yang kuat pula.

Dan rumah-rumah yang kuat itulah yang pada akhirnya melahirkan masyarakat yang kuat.


Karena itu bukan mustahil, kebangkitan Islam di masa depan justru dihasung oleh kaum perempuan. Oleh para ibu yang mendidik anaknya dengan iman, oleh para muslimah yang menjaga kehormatan diri, dan oleh para perempuan yang diam-diam memperkuat fondasi umat ini.


Mereka mungkin tidak selalu terlihat di panggung sejarah. Tetapi sering kali, mereka adalah tangan yang menggerakkan sejarah itu dari balik layar.


"Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah (dari) yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (Qs. 9 ayat 71)

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya