Nasab Darah Dan "Nasab" Iman
KITA sering bangga pada nasab darah. Siapa ayah kita, siapa ibu kita, dan dari keluarga apa kita berasal. Ada yang lahir dari keluarga terpandang, ada yang diwarisi nama besar, ada pula yang merasa kecil karena silsilahnya biasa saja.
Padahal di hadapan Allah, nasab darah tak selalu menentukan kemuliaan. Al-Qur’an mengajarkan satu hal penting bahwa "nasab" iman bisa mengalahkan nasab darah.
Lihat kisah Nabi Nuh as. Anaknya sendiri ditenggelamkan banjir, bukan karena kurang cinta, tapi karena putus nasab iman. Darah ada, tapi iman tidak.
Lihat juga Nabi Ibrahim as. Ayahnya pembuat berhala, tapi Ibrahim dimuliakan Allah karena memilih iman di atas darah.
Ia sendirian, tapi Allah bersamanya.
Di sisi lain, Allah mengabadikan hubungan keluarga yang disatukan oleh iman. Suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik yang bukan hanya sedarah, tapi juga disatukan oleh iman yang sama.
Oleh karena itu, jangan minder hanya karena keluargamu penuh kekurangan. Sebaliknya, jangan terlalu percaya diri karena lahir dari keluarga baik-baik. Ketahuilah, Allah SWT tidak pernah bertanya, “Anak siapa kamu?” Tapi Allah bertanya: “Siapa Rob yang kamu sembah?”
Ketahuilah, nasab darah berhenti di liang lahat. Tapi nasab iman ikut sampai di akhirat. Sebab di hari kiamat nanti, yang saling memanggil bukan lagi "saudaraku sedarah", tapi "saudaraku seiman".
Kalau hari ini keluargamu belum seiman jalan pikirannya, maka jangan putus asa. Bisa jadi, kamu yang Allah pilih untuk menyambung nasab iman itu. Dan ingat ini baik-baik : Nasab darah bisa diwariskan. Tapi nasab iman harus diperjuangkan.