Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Nuzulul Qur'An : Saatnya Mendakwahkan Al-Qur'An

·3 menit baca

RAMADHAN bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan turunnya cahaya. Pada bulan inilah Allah menurunkan kitab yang menjadi petunjuk hidup manusia, yaitu Al-Qur'an. Karena itu, kemuliaan Ramadhan tidak bisa dipisahkan dari peristiwa agung yang dikenal sebagai Nuzulul Qur’an, saat wahyu pertama turun kepada Muhammad melalui malaikat Jibril.


“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan- penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)


Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca untuk mendapatkan pahala, tetapi ia adalah petunjuk hidup yang menerangi jalan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Peristiwa Nuzulul Qur’an mengingatkan kita bahwa manusia tidak dibiarkan berjalan sendiri dalam kehidupan. Allah menurunkan wahyu agar manusia mengetahui tujuan hidupnya, memahami mana yang benar dan mana yang salah, serta memiliki pedoman dalam membangun kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.


Karena itu, sejak dahulu para ulama menjadikan Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an. Mereka memperbanyak tilawah, mentadabburi maknanya, dan menghidupkan ajarannya dalam kehidupan. Ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari, bahkan ada yang setiap malam. Bagi mereka, Ramadhan tanpa Al-Qur’an adalah Ramadhan yang kehilangan ruhnya.


Namun hubungan dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada membaca saja. Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dilantunkan, tetapi juga untuk diamalkan dan didakwahkan.


“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan berkata: sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (QS. Fussilat: 33)


Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan seorang muslim tidak hanya terletak pada ibadah pribadinya, tetapi juga pada kesediaannya mengajak manusia kepada kebaikan, yakni melalui dakwah yang paling mulia, mendakwahkan Al-Qur’an, mengajak manusia kembali kepada petunjuk Allah.


Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)


Hadits ini memberikan pesan yang sangat dalam. Ukuran kemuliaan seseorang dalam Islam bukan hanya pada seberapa banyak ia membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada seberapa besar ia membagikan cahaya Al-Qur’an kepada orang lain.


Ramadhan adalah momentum terbaik untuk memulai dakwah Al-Qur’an. Hati manusia pada bulan ini lebih lembut. Masjid lebih hidup. Orang-orang lebih mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah. Inilah waktu terbaik untuk mengajak keluarga, sahabat, dan masyarakat kembali dekat dengan Al-Qur’an.


Dakwah Al-Qur’an tidak selalu harus dengan ceramah besar di mimbar. Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana : mengajak keluarga membaca Al-Qur’an, membina anak-anak agar mencintai Al-Qur’an, mengingatkan teman untuk memperbaiki bacaan, atau membagikan pesan-pesan Al-Qur’an yang menyejukkan hati.


Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, akhlak yang baik juga merupakan bentuk dakwah Al-Qur’an. Ketika seorang muslim jujur dalam berdagang, lembut dalam berbicara, sabar dalam menghadapi masalah, dan adil dalam bersikap, sebenarnya ia sedang menunjukkan kepada dunia bagaimana Al-Qur’an hidup dalam dirinya.


Rasulullah saw sendiri adalah “Al-Qur’an yang berjalan (The Living Qur'an).” Akhlaknya mencerminkan ajaran Al-Qur’an. Apa yang beliau lakukan adalah penerapan nyata dari wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT.


Oleh karena itu, peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya bukan sekadar acara seremonial. Ia harus menjadi momen untuk bertanya kepada diri sendiri : apakah Al-Qur’an sudah benar-benar hidup dalam kehidupan kita? Apakah kita hanya membacanya di bulan Ramadhan, ataukah kita juga berusaha menyebarkan nilai-nilainya kepada orang lain?


Jika Ramadhan kali ini kita tidak hanya membaca Al-Qur’an tetapi juga mulai mengajarkannya, menyampaikannya, dan menghidupkan nilainya dalam kehidupan, maka sebenarnya kita sedang melanjutkan misi besar yang dimulai sejak peristiwa Nuzulul Qur’an lebih dari empat belas abad yang lalu.


Maka di tengah dunia hari ini yang bising dengan berbagai informasi dan ideologi, sehingga banyak manusia yang kehilangan arah meskipun memiliki ilmu dan teknologi yang maju. Di tengah situasi seperti ini, Al-Qur’an lebih dibutuhkan untuk menjadi cahaya yang mampu menuntun manusia menuju kebenaran. 


Dan kita memiliki tanggung jawab yang besar untuk --bukan hanya menjaga Al-Qur’an dalam mushaf-- tetapi juga menghidupkannya dalam dakwah dan kehidupan.

Bagikan:WhatsApp