Kembali ke artikel
RAGUKAN KEIKHLASANMU Jika Belum Menjadi Aktivis Dakwah
·2 menit baca
RAGUKAN KEIKHLASANMU
Jika Belum Menjadi Aktivis Dakwah
By. Satria hadi lubis
KITA sering berbicara tentang pentingnya ikhlas.
Ikhlas dalam bekerja.
Ikhlas dalam bersedekah.
Ikhlas dalam ibadah.
Pentingnya ikhlas itu karena ia syarat masuk surga.
"kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih" (Qs. 26 ayat 89)
Tapi pernahkah kita bertanya lebih mendalam...
Jika memang kita ikhlas karena Allah, mengapa belum terpanggil untuk membela agama-Nya? Bukankah cinta itu melahirkan pembelaan? Bukankah iman itu melahirkan pergerakan?
Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, beramal saleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim." (Qs. 41 ayat 33)
Ayat ini bukan sekadar pujian kepada mereka yang berdakwah. Ini adalah standar.
Orang terbaik bukan hanya yang rajin shalat.
Bukan hanya yang rajin puasa.
Tapi yang mengajak manusia kepada Allah.
Tanyalah pada dirimu...
Jika aku ikhlas, mengapa belum tergerak berdakwah?
Jika aku cinta agamaku, mengapa belum ikut menjaga dan menyebarkannya?
Camkanlah...
Menjadi aktivis dakwah bukan soal jabatan.
Bukan soal terkenal. Bukan soal tampil di mimbar.
Aktivis dakwah adalah siapa saja yang memikirkan umat.
Yang gelisah melihat kemaksiatan.
Yang sedih melihat generasi jauh dari Al-Qur’an.
Yang tidak bisa tenang ketika agama dihina.
Sebab ikhlas yang sejati pasti melahirkan tanggung jawab. Sebab orang yang benar-benar mencintai Allah, tidak akan puas hanya menyelamatkan dirinya.
Ia ingin orang lain juga selamat.
Ia ingin keluarganya dekat dengan Allah.
Ia ingin masyarakatnya mengenal kebenaran.
Ia ingin dunia menjadi baik dan sejahtera. Rahmatal lil 'alamin.
Kalau kita masih nyaman menjadi penonton…
sibuk kerja tanpa dakwah…
mendengar nasihat tanpa pernah menyampaikan…
maka mungkin kita perlu bertanya ulang pada hati :
Jangan-jangan ikhlas kita rusak oleh pamrih dunia.
Dengan harta, tahta, wanita, ketenaran dan kesenangan hawa nafsu.
Ketahuilah...
Agama ini tidak tegak dengan penonton.
Ia tegak dengan penggerak.
Dengan orang-orang yang bersedia mengorbankan harta, waktu, tenaga, perasaan, bahkan nyawa untuk membela agama Allah
Yang kesemuanya akan diganti dengan kemuliaan dan surga.
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Qs. 47 ayat 7)
Menjadi aktivis dakwah memang melelahkan.
Kadang disalahpahami.
Kadang tidak dihargai.
Kadang dicurigai, bahkan diframing jual agama.
Tapi justru di situlah keikhlasan diuji :
Apakah kita beragama hanya untuk ketenangan pribadi?
Atau untuk meninggikan kalimat Allah (Li i'lai kalimatillah)?
Ragukan keikhlasanmu…
jika belum ada kontribusi untuk dakwah.
Ragukan keikhlasanmu…
jika belum pernah memikirkan bagaimana agama ini bertahan di generasi berikutnya.
Sebab...
orang yang benar-benar ikhlas kepada Allah tak akan tahan melihat agama-Nya sendirian.
Ia akan bangkit dengan pikiran besar, walau melangkah dari kesederhanaan. Think globally, act locally.
Maka ketika engkau menjadi aktivis dawah...
Di situlah keikhlasan mulai menemukan bentuk sesungguhnya.
Iman tak lagi diam…tapi bergerak menuju ridho ilahi.
Bagikan:WhatsApp