Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Refleksi Kasus Siswa Sd Yang Bundir Di Ngada

·2 menit baca

BARU-BARU ini, kita dikejutkan oleh berita tragis tentang seorang siswa Sekolah Dasar berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Hal itu terjadi setelah permohonan sederhananya untuk membeli buku tulis dan pena tidak dapat dipenuhi oleh keluarganya karena keterbatasan ekonomi. (https://www.kompas.id/artikel/

anak-sd-bunuh-diri-lantaran-tak-mampu-beli-buku-dan-pena-tamparan-bagi-negara)


Peristiwa ini telah menjadi perhatian nasional dan menyentuh hati banyak pihak sebagai sebuah tamparan keras tentang kondisi sosial ekonomi dan pendidikan anak Indonesia. 


Bagi kita orang beriman, bunuh diri tentu saja merupakan tindakan yang salah, dengan alasan apa pun. Sebab setiap jiwa adalah amanah dari Allah SWT. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Qs. 4 ayat 29)


Larangan bunuh diri ini tegas dan tanpa kompromi. Islam memandang hidup sebagai karunia yang harus dijaga, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun. Anak yang masih kecil, yang belum sepenuhnya mampu memahami kompleksitas hidup, sangat perlu diberi dukungan penuh oleh lingkungannya. Bukan malah mengalami tekanan batin yang membuatnya menyerah.


Kesedihan atas peristiwa ini bukan saja karena kehilangan nyawa, tapi juga karena terungkapnya ketidakmampuan sistem sosial dan kenegaraan kita dalam memenuhi kebutuhan hak azasi anak Indonesia, berupa pendidikan, perlindungan, dan kasih sayang.


Anak adalah amanah umat dan negara. Islam sangat menekankan perlindungan terhadap kaum lemah, terutama anak-anak dan orang miskin. Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang tidak menyayangi anak kecil di antara kami, dan tidak mengakui hak orang tua kami, maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Ahmad)


Oleh karena itu, ketika seorang anak sampai pada titik putus asa yang begitu mendalam sehingga mengakhiri hidupnya, maka kita perlu melihatnya sebagai kegagalan bersama, bukan sekadar “peristiwa individu”.


Keluarga, guru, ketua RT/RW, tokoh masyarakat dan agama, serta pemerintah daerah dan pusat perlu menjadikan peristiwa ini sebagai teguran keras untuk membenahi sistem lingkungan tumbuh kembang anak yang sehat dan aman. 


Peristiwa tragis di Ngada NTT bisa jadi merupakan fenomena gunung es. Masih banyak anak-anak Indonesia yang hidup papa dan kurang perhatian. Ke depannya, kita semua turut bertanggung jawab untuk memastikan tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang merasa kesepian dan sendirian.


Bagikan:WhatsApp