Kembali ke artikel
Sensitif Agar Tidak Merepotkan Orang Lain
·3 menit baca
SENSITIF AGAR TIDAK MEREPOTKAN ORANG LAIN
By. Satria hadi lubis
SERINGKALI kita merasa tidak berbuat salah. Kita tidak mencuri, tidak memfitnah, tidak menyakiti. Tetapi tanpa sadar, kita merepotkan orang lain. Misalnya, menerobos antrian, berdiri menerima telpon di depan pintu tempat orang lalu lalang, mengendarai motor yang berjalan pelan di tengah jalan, memutar musik dengan suara keras, bertamu dalam waktu yang lama, dan lain-lain.
Jika kita tahu antrean panjang, jangan memotong. Jika kita tahu seseorang sedang lelah, jangan menambah beban dengan keluhan yang tidak perlu. Jika kita tahu seseorang sedang sempit rezekinya, jangan memaksanya mentraktir.
Rasulullah saw bersabda, “Seorang muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari)
Selamat dari lisan dan tangan bukan hanya berarti tidak menyakiti secara langsung. Termasuk di dalamnya tidak membuat orang lain susah karena sikap kita yang abai.
Allah SWT berfirman:
"Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma'ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma'ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka..." (QS. 2 ayat 231)
Ayat ini turun dalam konteks rumah tangga, tetapi nilainya universal, yaitu jangan jadikan hubungan sebagai sarana menyulitkan orang lain.
Sensitif agar tidak merepotkan orang lain adalah tanda kedewasaan iman. Ia lahir dari empati. Dari kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain.
Orang yang dewasa imannya justru sibuk bertanya dalam hati: “Apakah kehadiranku meringankan atau malah memberatkan?” “Apakah ucapanku menenangkan atau justru menambah tekanan?” "Apakah perbuatanku menyakiti atau menyenangkan orang lain?"
Sayangnya, di zaman sekarang ini banyak orang merasa berhak atas perhatian orang lain. Sedikit-sedikit minta ditemani. Sedikit-sedikit minta dipahami. Sedikit-sedikit minta dibantu. Tetapi lupa bertanya, "Sudahkah aku memudahkan urusan orang lain?"
Nabi saw adalah manusia yang paling peka terhadap orang lain. Beliau saw memendekkan shalat ketika mendengar tangis bayi karena khawatir memberatkan ibunya. Beliau menahan diri untuk tidak membangun ulang Ka’bah sesuai pondasi Nabi Ibrahim karena khawatir membebani kaum Quraisy yang baru masuk Islam.
Kepekaan adalah bentuk kasih sayang. Dan kasih sayang adalah inti ajaran Islam. Jadi, menjadi muslim yang baik bukan hanya tentang rajin ibadah, tetapi juga tentang tidak merepotkan orang lain. Orang lain merasa aman bersama kita. Tidak takut direpotkan. Tidak cemas dibebani.
Mari kita terus belajar meningkatkan kepekaan. Belajar sensitif agar tidak merepotkan orang lain. Belajar menahan diri. Belajar mengurangi tuntutan. Belajar membantu tanpa perlu diminta. Dan yang paling penting, belajar memastikan bahwa kehadiran kita adalah rahmat, bukan beban.
Bisa jadi, yang membuat kita masuk surga bukan karena banyaknya amal yang kita banggakan, tetapi pada sedikitnya beban yang kita tinggalkan untuk orang lain.
Bagikan:WhatsApp