Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Siapa Musuh Negara?

·3 menit baca

By. Satria hadi lubis
KETIKA kata musuh negara disebut, yang sering terbayang adalah ancaman dari luar: perang, spionase, atau ideologi asing. Padahal dalam banyak kasus, musuh paling berbahaya justru tidak datang dari luar negara, tapi ada di dalam negara. Kadang ia berpakaian rapi. Kadang mengatasnamakan kebaikan. Bahkan tak jarang mengaku paling cinta negeri ini.
Siapa saja musuh-musuh negara?
1.⁠ ⁠Koruptor
Korupsi bukan sekadar kejahatan hukum, tapi pengkhianatan terhadap rakyat. Ia mencuri hak orang miskin, merusak masa depan bangsa dan menghancurkan kepercayaan publik.
Negara bisa punya tentara kuat, tapi kalau korupsinya merajalela, negara itu rapuh dari dalam. Koruptor adalah musuh negara tanpa seragam perang.
2.⁠ ⁠Aparat hukum yang zalim
Ketika hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, di situlah negara melemah. Ketidakadilan yang dipelihara melahirkan kemarahan, menumbuhkan apatisme dan menghancurkan kepercayaan. Rakyat yang kehilangan kepercayaan adalah bom waktu bagi negara.
3.⁠ ⁠Kebodohan yang dipelihara
Bukan semua kebodohan berbahaya. Yang berbahaya adalah kebodohan yang dipelihara, yaitu ketika pendidikan dipinggirkan, literasi diabaikan dan hoaks dibiarkan. Maka negara sedang menciptakan musuhnya sendiri, yakni warga negara yang mudah diadu, dibohongi, dan diperalat.
4.⁠ ⁠Provokator pengadu domba
Perbedaan dalam sebuah negara itu normal. Namun permusuhan yang direkayasa itu yang fatal. Politik yang hidup dari kebencian, identitas sempit dan provokasi
adalah musuh nyata persatuan. Negara tidak runtuh karena beda pendapat, tapi karena rakyatnya dibuat saling membenci satu sama lain.
5.⁠ ⁠Ekstremis dan fanatik buta
Ideologi apa pun ketika kehilangan akal sehat, berubah menjadi ancaman. Sebab fanatisme buta menutup ruang dialog, membenarkan kekerasan dan menghalalkan pengrusakan. Negara tidak butuh warga yang paling keras berteriak, tapi yang paling dewasa menyikapi perbedaan.
6.⁠ ⁠Penyalahgunaan kekuasaan
Kekuasaan tanpa kontrol adalah musuh negara yang paling licin. Saat jabatan dipakai untuk membungkam kritik, memperkaya diri, dan melindungi kelompoknya sendiri, maka negara sedang diseret menuju kehancuran yang perlahan tapi pasti.
Ibnu Rusyd mengatakan, "Pemimpin yang zhalim adalah orang yang memimpin bangsanya dalam rangka mencari keuntungan dan kesenangan bagi dirinya sendiri dan bukan demi kepentingan bangsanya".
7.⁠ ⁠Sikap apatis
Musuh negara tidak selalu marah dan berisik. Kadang ia diam dan masa bodoh. Ketika seorang warga masyarakat berkata: “Ah, bukan urusan saya.” Di situlah korupsi berkembang nyaman, kezaliman merajalela dan kejahatan tumbuh subur tanpa perlawanan. Negara butuh kritik, bukan sikap masa bodo.
Kesimpulannya, musuh negara bukan selalu mereka yang berbeda pendapat. Bukan pula mereka yang mengkritik.
Justru sering kali dari mereka yang mencuri atas nama jabatan, yang memecah belah atas nama identitas sempit, dan yang membungkam atas nama stabilitas, merekalah musuh negara sesungguhnya.
Negara tidak akan hancur oleh kritik. Negara hancur karena kebohongan yang dibiarkan, kezaliman yang dinormalisasi,
dan rakyat yang memilih diam. Mencintai negara bukan soal slogan. Tapi soal keberanian menjaga keadilan, kejujuran, dan akal sehat bersama. Wallahu'alam.

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya