Kembali ke artikel
Tak Ada Yang Mapan Sampai Akhir Hayatnya
·3 menit baca
By. Satria hadi lubis
BANYAK orang yang menunda berdakwah dan berbuat baik kepada orang lain dengan satu alasan klasik: “Nanti kalau saya sudah mapan.” Mapan secara ekonomi. Mapan secara mental. Mapan secara ilmu. Mapan secara usia.
Ada juga yang berkata, “Nanti saya sedekah kalau penghasilan sudah besar.” “Nanti menikah kalau ekonomi sudah aman.” “Nanti pakai jilbab kalau iman sudah kuat.” “Nanti ngaji kalau hati sudah tenang.”
Padahal, ada satu kenyataan yang sering kita lupakan : TAK ADA manusia yang benar-benar mapan sampai ajal menjemputnya.
Hidup ini tak pernah stabil sepenuhnya. Hari ini kita kuat, besok bisa rapuh. Hari ini punya, besok bisa kehilangan. Hari ini siap, besok diuji dengan ketidaksiapan. Bahkan para nabi pun berdakwah dalam ketidakpastian dunia, namun mereka tidak menunda ketaatan.
Allah SWT tidak pernah menunggu kita mapan untuk memanggil kita taat. Justru sering kali, ketaatanlah yang memapankan hidup kita.
"Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Qs. 47 ayat 7)
Justru yang ada bukan hidup yang mapan, tetapi hidup yang terus diuji.
"Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Qs. 67 ayat 2)
Islam tidak mengajarkan kita menunggu sempurna, tetapi berjalan sambil dibenahi. Bukan menunggu siap, tetapi siap untuk taat meski belum ideal.
“Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, ia berkata: Rasulullah SAW pernah memegang pundakku seraya bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau seorang pengembara.’ Ibnu Umar juga pernah berkata: ‘Bila engkau berada di waktu sore, janganlah menunggu waktu pagi, dan bila engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu, dan hidupmu sebelum matimu,’” (HR Al-Bukhari).
Dalam hadits di atas, Rasulullah saw mewasiatkan kita bahwa dunia ini hanyalah pengembaraan dan tempat singgah bagi orang asing. Lalu mengapa kita menunggu mapan di tempat singgah?
Justru orang yang beriman sadar : ketidakmapanan hidup adalah LADANG PAHALA. Di sanalah sabar bekerja. Di sanalah syukur memotivasi. Di sanalah tawakal menenangkan. Di sanalah munajat menjadi khusyu'.
Oleh karena itu, jangan kita dikuasai kecemasan, kegelisahan terus menerus. Terlalu mengkhawatirkan masa depan yang belum tentu kita masih ada. Bersiap boleh, tapi tak boleh menguasai orientasi dan merusak mental.
Allah berfirman : "Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin." (Qs. 3 ayat 139)
Sekali lagi, yang perlu kita kejar bukan hidup yang mapan, tetapi hidup yang Allah RIDHOI. Karena pada akhirnya,
yang benar-benar “aman” bukanlah hidup tanpa masalah,
melainkan hati yang TETAP TERIKAT pada Allah di tengah-tengah masalah, sampai akhir hidup kita yang husnul khatimah.
Bagikan:WhatsApp