Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Tarawih : Sendiri Atau Berjamaah?

·2 menit baca

By. Satria hadi lubis
MALAM Ramadhan selalu punya suasana yang berbeda. Lampu masjid menyala lebih lama. Anak-anak berlarian kecil membawa sajadah. Orang-orang yang siangnya lelah bekerja, malam itu tetap melangkah menuju rumah Allah.
Lalu muncul satu pertanyaan sederhana, lebih baik tarawih sendiri atau berjamaah?
Di zaman Nabi Muhammad saw, tarawih pernah dilakukan berjamaah beberapa malam. Para sahabat merasakan indahnya berdiri bersama beliau. Namun beliau kemudian tidak keluar lagi, bukan karena tidak suka berjamaah, tapi karena khawatir shalat malam itu diwajibkan atas umatnya. Betapa lembutnya beliau kepada kita.
Setelah beliau wafat, kekhawatiran itu tidak ada lagi. Di masa Umar bin Khattab, kaum muslimin dikumpulkan dalam satu jamaah dengan satu imam, Ubay bin Ka'ab. Sejak saat itu, tarawih berjamaah menjadi syiar yang hidup, dari masjid kecil di kampung hingga masjid besar di kota.
Tarawih berjamaah itu indah. Kita berdiri bersama. Rukuk bersama. Sujud bersama. Hati-hati yang berbeda latar belakangnya, malam itu tunduk pada Tuhan yang sama. Ada pahala besar bagi yang mengikuti imam sampai selesai, seperti shalat semalam penuh.
Namun, tarawih sendiri juga bukan pilihan yang salah. Ada ibu yang harus menidurkan anaknya. Ada ayah yang pulang kerja sangat larut. Ada orang sakit yang tak mampu berjalan jauh. Ada pula jiwa yang lebih mudah menangis ketika sendiri dalam sunyi. Di ruang kecil rumahnya, ia berdiri pelan, membaca ayat demi ayat, mungkin terbata, tapi tulus.
Ramadhan tidak sedang mengadu kita : siapa yang ke masjid, siapa yang di rumah. Ramadhan justru sedang bertanya : siapa yang hatinya paling hidup?
Kalau berjamaah membuat hati kita lebih kuat, maka datanglah ke masjid.
Kalau sendiri membuat hati lebih khusyuk, maka jangan merasa kecil.
Yang terpenting bukan ramai atau sunyi.
Bukan panjang atau pendek.
Bukan cepat atau lambat.
Yang terpenting adalah malam itu kita benar-benar berdiri untuk Allah.
Karena pada akhirnya, tarawih bukan sekadar soal tempat kita shalat. Ia adalah tentang ke mana hati kita menghadap.
Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya