Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Tata Cara Tidur Agar Mendapatkan Pahala

·3 menit baca

By. Satria hadi lubis
BANYAK orang mengira pahala hanya datang dari shalat, puasa, sedekah, atau dakwah. Padahal dalam Islam, bahkan tidur pun bisa bernilai ibadah. Islam adalah agama yang menjadikan seluruh hidup sebagai ladang amal, termasuk saat kita memejamkan mata.
Bagaimana caranya agar tidur kita bernilai pahala?
Pertama, luruskan niat.
Tidur bukan sekedar melepas lelah. Niatkan agar tubuh kembali kuat untuk beribadah, bekerja mencari nafkah yang halal, mendidik keluarga, dan berdakwah. Niat yang benar mengubah aktivitas duniawi menjadi bernilai ukhrawi. Maka sebelum tidur, hadirkan kesadaran: “Ya Allah, aku tidur agar esok bisa lebih taat kepada-Mu. Aku tidur untuk mencari ridho-Mu... ya Allah”
Kedua, berwudhu sebelum tidur.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah saw menganjurkan berwudhu sebelum tidur sebagaimana wudhu untuk shalat.
"Jika kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, lalu berbaringlah pada sisi kanan badanmu..." (HR. Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710).
Tidur dalam keadaan suci membuat malaikat mendoakan kebaikan sepanjang malam.
"Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa, 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'." (HR. Ibnu Hibban 3/329, dinilai shahih oleh Al-Albani).
Ketiga, membaca doa dan dzikir sebelum tidur.
Membaca doa sebelum tidur dan setelah bangun tidur. Membaca ayat Kursi, dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah, dan membaca 3 surat terakhir. Juga bertasbih, tahmid, dan takbir masing-masing 33 kali. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ayat Kursi menjaga dari gangguan setan hingga pagi. Tidur pun menjadi lebih tenang dan penuh keberkahan.
Terkait membaca 3 surat terakhir, haditsnya sebagai berikut :
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari, no. 5017)
Keempat, tidur dengan posisi miring ke kanan.
Selain menyehatkan secara medis, tidur dalam posisi miring ke kanan merupakan sunnah Nabi saw seperti yang disebutkan dalam hadits ke atas. Mengikuti sunnah Nabi saw mendatangkan pahala karena ada unsur ittiba’ (mengikuti teladan Rasul).
Kelima, memaafkan orang lain sebelum tidur.
Bersihkan hati dari dendam dan iri. Betapa banyak orang yang shalatnya panjang, tetapi hatinya kotor. Tidur dengan hati yang lapang menjadikan malam kita ringan dan jiwa kita damai.
Keenam, hindari begadang tanpa manfaat.
Waktu malam adalah waktu istirahat dan qiyam (ibadah malam). Jangan habiskan untuk hal sia-sia. Jika pun harus begadang karena pekerjaan, niatkan sebagai kebaikan.
Bayangkan, delapan jam tidur yang biasanya kosong dari nilai, tiba-tiba berubah menjadi pahala yang terus mengalir karena niat, wudhu, dan dzikir. Inilah indahnya Islam. Tidak ada waktu yang sia-sia bagi orang yang beriman.
Maka mulai malam ini, jangan sekadar rebah. Jadikan rebahmu sebagai ibadah. Jadikan pejam matamu sebagai penguat langkah menuju surga. Karena seorang mukmin, bahkan ketika tidur, tetap sedang berjalan menuju Allah.

Bagikan:WhatsApp