Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Tips Menjadi Suami Yang Berwibawa

·3 menit baca

ADANYA fenomena istri yang sering membangkang dan suka merendahkan suaminya bukan muncul tiba-tiba. Ia muncul perlahan disebabkan wibawa suami yang tergerus sedikit demi sedikit. 


Untuk menjadi suami yang berwibawa, caranya bukan dengan suara yang tinggi, bukan dengan tatapan yang menakutkan, dan bukan pula dengan kekuasaan yang dipaksakan. Wibawa suami lahir dari penghormatan, dan penghormatan tidak bisa diminta, ia harus dibangun.


Dalam Islam, suami memang harus jadi pemimpin yang berwibawa bagi istrinya. Namun kepemimpinan suami bukan soal dilayani, melainkan tentang tanggung jawab.


"Laki-laki itu adalah pemimpin bagi wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka..." (QS. An Nisa: 34)


Bagaimana tips agar bisa menjadi suami yang berwibawa di mata istri?


1.⁠ ⁠Perbaiki hubungan dengan Allah

Wibawa sejati lahir dari kedekatan dengan Allah. Orang yang menjaga kesetiaan kepada pasangan, jujur, dan takut kepada Allah akan dimuliakan oleh istrinya.


“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)


Bukan jabatan, bukan harta, tapi takwa. Itulah sumber wibawa.


2.⁠ ⁠Tegas tanpa kasar

Suami yang berwibawa bukan yang mudah marah, tapi yang jelas sikapnya. Ia tahu kapan harus lembut, dan kapan harus tegas.


Rasulullah saw adalah sosok paling lembut, namun tegas, sehingga dihormati oleh istri-istrinya. Ketegasan tanpa akhlak menjadi keras. Kelembutan tanpa prinsip menjadi lemah. Wibawa ada di tengah-tengahnya.


3.⁠ ⁠Konsisten antara ucapan dan tindakan

Wibawa runtuh ketika kata-kata tidak sejalan dengan perbuatan. Menyuruh shalat tapi suami sendiri sering lalai. Melarang sesuatu tapi malah melakukannya hanya akan menggerus kewibawaan.


Allah mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (QS. As-Saff: 2)


4.⁠ ⁠Bertanggung jawab, bukan lari dari masalah

Suami berwibawa tidak menyalahkan keadaan. Ia hadir saat keluarga membutuhkan.


Rasulullah saw bersabda: “Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)


5.⁠ ⁠Menghormati istri, bukan merendahkan

Aneh jika suami ingin dihormati tapi ia sendiri suka merendahkan istrinya.


Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.” (HR. Tirmidzi)


Semakin seorang suami memuliakan istrinya, justru semakin tinggi wibawanya. Karena penghormatan tidak lahir dari ketakutan, tapi dari keteladanan.


6.⁠ ⁠Mampu mengendalikan emosi

Marah bukan tanda kuat. Justru sebaliknya, mengendalikan marah adalah kekuatan.


Rasulullah saw bersabda: “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam gulat, tetapi yang mampu menahan dirinya saat marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Suami yang mudah meledak akan ditakuti, tapi hanya suami yang tenang yang dihormati.


7.⁠ ⁠Menjadi teladan, bukan sekadar pemberi perintah

Anak dan istri lebih mudah mengikuti contoh daripada perintah. Shalat tepat waktu, jujur dalam bekerja, santun dalam berbicara, itulah dakwah paling kuat dalam rumah. Tanpa banyak kata, wibawa itu tumbuh dengan sendirinya.


Wibawa bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Ia tidak lahir dari jabatan sebagai “kepala keluarga” saja. Wibawa adalah hasil dari takwa yang terjaga, akhlak yang mulia, dan tanggung jawab yang ditunaikan.


Maka jika hari ini ada suami yang kurang dihormati, jangan buru-buru menyalahkan istri dan anak-anaknya. Tanyakan dulu pada diri, sudahkah aku menjadi sosok yang pantas untuk dihormati?

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya