Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Adab Di Dalam Majelis Ilmu (Halaqoh)

·4 menit baca

DI ZAMAN sekarang, menghadiri majelis ilmu (halaqoh atau liqo') menjadi semakin mudah. Kajian tersedia di masjid, kampus, kantor, bahkan melalui media daring. Namun kemudahan mendapatkan ilmu tidak selalu diiringi dengan baiknya adab dalam menuntut ilmu.


Padahal para ulama terdahulu menegaskan bahwa adab didahulukan sebelum ilmu. Sebab ilmu yang masuk ke dalam hati tanpa adab sering kali tidak melahirkan kebaikan. Sebaliknya, ilmu yang disertai adab akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.


Lalu bagaimana adab seorang muslim ketika menghadiri halaqoh atau majelis ilmu?


1. Meluruskan Niat.

Tujuan menghadiri majelis ilmu adalah mencari ridha Allah Ta'ala, bukan mencari pujian, popularitas, atau sekadar mengisi waktu luang. Rasulullah saw bersabda:


"Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mendapatkan ridha Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan keuntungan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga." (HR. Abu Dawud)


Niat yang benar akan menjadikan setiap langkah menuju dan selama di dalam majelis ilmu bernilai ibadah, serta mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT.


2. Datang Tepat Waktu.

Datang terlambat menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap ilmu dan guru. Orang yang datang lebih awal memiliki kesempatan mempersiapkan hati, berdoa, membaca Al-Qur'an, atau berdzikir sebelum kajian dimulai.


Para sahabat dahulu sangat bersemangat menghadiri majelis Nabi saw. Mereka tidak ingin kehilangan satu kalimat pun dari beliau.


3. Berpakaian Rapi dan Menjaga Kebersihan.

Majelis ilmu adalah tempat yang mulia. Karena itu, seorang muslim hendaknya hadir dengan pakaian yang bersih, tubuh yang harum, dan penampilan yang rapi. Allah Ta'ala berfirman:


"Pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid." (QS. Al-A'raf: 31)


Kebersihan dan kerapian menunjukkan penghormatan kepada ilmu, guru, dan sesama peserta halaqoh.


4. Duduk dengan Sopan dan Khusyuk.

Jangan bersandar secara berlebihan, bermain-main, asyik ngobrol sendiri atau menunjukkan sikap yang meremehkan majelis.


Rasulullah saw pernah memuji para sahabat yang duduk tenang dan penuh perhatian ketika mendengarkan ilmu. Duduklah dengan penuh penghormatan, seolah-olah setiap kalimat yang disampaikan adalah bekal menuju surga.


5. Tidak Sibuk dengan Ponsel.

Salah satu penyakit majelis ilmu zaman sekarang adalah peserta yang hadir secara fisik, tetapi pikirannya berada di media sosial. Pesan masuk, notifikasi, video pendek, dan berbagai gangguan lainnya sering mencuri fokus dari ilmu yang sedang disampaikan. Padahal bisa jadi satu kalimat yang terlewat adalah kalimat yang akan mengubah hidup kita.


6. Mendengarkan Lebih Banyak daripada Berbicara.

Allah SWT memberikan dua telinga dan satu mulut kepada manusia. Salah satu hikmahnya adalah agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.


Jangan memotong penjelasan ustadz, jangan mendominasi diskusi, dan jangan merasa paling tahu. Orang yang rendah hati lebih mudah mendapatkan ilmu dibandingkan orang yang selalu ingin terlihat pintar dan ingin menonjol.


7. Bertanya dengan Adab.

Bertanya adalah bagian dari menuntut ilmu. Namun pertanyaan hendaknya diajukan dengan sopan, jelas, dan bertujuan mencari kebenaran.


Jangan bertanya untuk menjatuhkan, menguji, atau mempermalukan guru. Jika bertanya sampaikanlah dengan kalimat yang sopan dan sesuai dengan tema. Jika sudah dijawab, jangan bersifat lidah dengan guru atau peserta lainnya. Sebab hikmah itu tidak mesti diketahui sekarang, ia bisa datang di waktu yang lain.


8. Mencatat yang Penting.

Ingatan manusia terbatas. Karena itu, biasakan mencatat poin-poin penting selama halaqoh berlangsung.


Para ulama terdahulu berjalan jauh untuk mendapatkan satu hadis, lalu menuliskannya dengan penuh ketelitian. Catatan yang baik sering menjadi sumber ilmu yang bermanfaat bertahun-tahun kemudian.


9. Menghormati Guru dan Sesama Peserta.

Jangan meremehkan guru hanya karena usianya lebih muda. Jangan merendahkan peserta lain hanya karena ilmunya lebih sedikit. Keberkahan ilmu sering kali hadir melalui penghormatan kepada orang-orang yang terlibat dalam proses belajar.


Imam Syafi'i rahimahullah dikenal sangat menghormati gurunya hingga beliau membuka lembaran kitab dengan sangat pelan agar tidak mengganggu gurunya.


10. Mengamalkan Ilmu yang Didapat.

Tujuan akhir dari halaqoh bukanlah menambah catatan, melainkan menambah ketaatan.


Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah. Semakin banyak ilmu yang kita ketahui, semakin besar pula tanggung jawab kita di hadapan Allah SWT. Tapi tanpa ilmu kita akan tersesat dari awal.


Majelis ilmu adalah taman surga di dunia. Di sana hati dihidupkan, iman dikuatkan, dan jalan menuju surga dipermudah. Karena itu, jangan hanya berusaha hadir di dalam halaqoh. Berusahalah hadir dengan adab terbaik.


Sebab sering kali keberkahan ilmu bukan hanya ditentukan oleh banyaknya pengetahuan yang kita peroleh, tetapi juga oleh baiknya adab yang kita tunjukkan selama menuntut ilmu.


"Orang yang datang ke majelis ilmu membawa dua wadah: akal untuk menerima ilmu dan hati untuk menerima keberkahan. Ilmu masuk melalui akal, tetapi keberkahan masuk melalui adab."

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya