Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Adakah Hukum Karma Dalam Islam?

·3 menit baca

SERING kita mendengar ungkapan, "Dia sedang kena karma." Atau, "Hati-hati berbuat jahat, nanti karma akan membalas." Pertanyaannya adalah apakah Islam mengenal hukum karma?


Jawabannya: Islam tidak mengenal konsep karma. Namun, Islam mengajarkan bahwa setiap perbuatan manusia memiliki konsekuensi dan balasan dari Allah Ta'ala.


Konsep karma umumnya mengajarkan bahwa perbuatan baik dan buruk seseorang akan menghasilkan akibat yang otomatis menimpa pelakunya, bahkan bisa berlangsung dalam siklus kehidupan yang berulang. Sedangkan dalam Islam, yang memberi balasan bukanlah suatu hukum alam yang bekerja sendiri, melainkan Allah Yang Maha Adil dan Maha Berkuasa. Allah SWT berfirman:


"Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah: 7-8)


Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun amal yang sia-sia. Semua akan mendapatkan balasan yang setimpal. Namun, balasannya tidak selalu harus terjadi di dunia. Ada orang saleh yang hidupnya penuh ujian. Ada pula orang zalim yang tampak menikmati hidupnya. Jika menggunakan logika karma, hal ini sulit dipahami. Tetapi Islam mengajarkan bahwa dunia bukanlah tempat pembalasan yang sempurna. Pembalasan yang sempurna akan terjadi di akhirat.


Karena itu, seorang muslim tidak boleh terburu-buru mengatakan bahwa setiap musibah yang menimpa seseorang pasti akibat dosanya. Bisa jadi itu adalah ujian untuk meninggikan derajatnya. Bisa jadi itu adalah bentuk kasih sayang Allah agar ia kembali kepada-Nya.


Meskipun demikian, Islam memang mengajarkan bahwa sebagian perbuatan dapat mendatangkan akibat yang mirip dengan apa yang sering disebut orang sebagai "karma". Rasulullah saw bersabda:


"Sayangilah yang ada di bumi, niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian." (HR. At-Tirmidzi)


"Barangsiapa memudahkan urusan seorang muslim, Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim)


Sebaliknya, kezaliman sering kali kembali kepada pelakunya. Dusta menghancurkan kepercayaan. Pengkhianatan merusak hubungan. Kesombongan mengundang kehinaan. Tetapi semua itu terjadi karena ketetapan Allah, bukan karena adanya kekuatan karma yang bekerja sendiri.


Yang menarik, Islam mengajarkan sesuatu yang lebih indah daripada karma, yaitu taubat dan ampunan. Dalam konsep karma, seseorang harus menanggung akibat dari perbuatannya. Sedangkan dalam Islam, kesalahan yang besar sekalipun dapat dihapus dengan taubat yang tulus. Allah Ta'ala berfirman:


"Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53)


Inilah keindahan Islam. Seorang pencuri bisa menjadi da'i. Seorang pendosa bisa menjadi ahli surga. Seorang yang dahulu jauh dari Allah bisa menjadi hamba yang dicintai-Nya. Pintu perubahan selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.


Jadi, Islam tidak mengenal hukum karma dalam pengertian teologisnya. Yang ada adalah sunnatullah, keadilan Allah, serta balasan atas amal perbuatan yang diberikan sesuai hikmah dan kehendak-Nya.


Karena itu, jangan takut kepada karma. Takutlah kepada Allah. Dan jangan berharap kepada karma untuk membalas kezaliman. Berharaplah kepada keadilan Allah yang tidak pernah salah menghitung dan tidak pernah terlambat memberikan balasan.


Sebab pada akhirnya, bukan karma yang mengatur kehidupan manusia, melainkan Allah Yang Maha Adil, Maha Mengetahui, dan Maha Membalas setiap amal perbuatan hamba-Nya.


"Setiap perbuatan pasti memiliki konsekuensi. Tetapi dalam Islam, yang menentukan konsekuensi itu bukan karma, melainkan Allah Ta'ala."

Bagikan:WhatsApp