Agar Anak Terlindung Dari Pergaulan “Boti”
ANAK adalah amanah. Ia lahir dalam keadaan suci, namun lingkungan, pergaulan, dan tontonan bisa mengubah arah hidupnya. Di zaman ini, ancaman terhadap anak tidak selalu tampak jelas. Ia bisa hadir dalam bentuk pergaulan bebas, penyimpangan akhlak, bahkan kebingungan identitas yang menjauhkan anak dari fitrahnya. Maka orang tua tidak cukup hanya mencukupi kebutuhan materi, mereka harus menjadi pelindung iman dan akhlak anak-anaknya.
Istilah "Boti" dalam tulisan ini lebih merujuk pada kata yang berasal dari bahasa Inggris "bottom", yang merujuk pada pria gay yang memosisikan diri sebagai pihak yang menerima dalam hubungan seksual atau bersikap feminin. Istilah yang ada hubungannya dengan istilah yang lebih luas, yakni LG*T.
Lalu bagaimana agar anak terhindar dari pergaulan menyimpang LG*T dan keboti-botian?
Pertama, tanamkan tauhid sejak dini.
Anak yang mengenal Allah SWT akan memiliki kompas hidup yang jelas. Ia tahu mana yang benar dan mana yang menyimpang. Allah berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya: ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.’” (QS. Luqman: 13)
Tauhid bukan hanya diajarkan, tetapi ditanamkan dengan cinta, keteladanan, dan pengulangan. Termasuk agar anak sejak kecil sudah takut kepada Allah jika berperilaku seksual yang menyimpang.
Kedua, bangun kedekatan emosional dengan anak.
Banyak anak terjerumus bukan karena kurang aturan, tapi karena kurang perhatian. Ia mencari penerimaan di luar rumah.
Karena itu, orang tua harus hadir. Bukan hanya secara fisik, tapi juga hati. Dengarkan anak, pahami kegelisahannya, dan jadilah tempat pulangnya.
Ketiga, jaga lingkungan pergaulan anak.
Teman adalah cermin. Jika lingkungannya rusak, maka nilai anak pun akan terkikis. Rasulullah saw bersabda:
“Seseorang itu mengikuti agama (gaya hidup) temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Selektif dalam memilih sekolah, teman, dan komunitas adalah bentuk ikhtiar menjaga masa depan anak.
Keempat, awasi pemakaian media dan teknologi.
Hari ini, “dunia luar” masuk ke dalam rumah lewat layar. Tanpa kontrol, anak bisa menyerap nilai yang bertentangan dengan Islam. Allah SWT mengingatkan:
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Pengawasan bukan berarti mengekang, tetapi membimbing agar anak mampu memilih dengan bijak tontonan apa yang layak dan tidak layak di medsos.
Kelima, perkuat dengan doa.
Hati manusia berada di tangan Allah. Maka setelah ikhtiar, iringi dengan doa yang sungguh-sungguh. Antara lain doa ini:
“Ya Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74)
Dan juga doa perlindungan yang diajarkan Rasulullah saw:
أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ
"Aku berlindung untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan, binatang berbahaya, dan dari pandangan mata yang jahat." (HR. Bukhari No. 3371)
Catatan: Jika untuk satu anak laki-laki, ucapkan U'iidzuka (أُعِيذُكَ). Jika untuk satu anak perempuan, U'iidzuki (أُعِيذُكِ). Jika untuk banyak anak, U'iidzukum (أُعِيذُكُمْ).
Menjaga anak dari penyimpangan seksual bukan tugas sesaat, tetapi perjalanan panjang. Dibutuhkan ilmu, kesabaran, dan keteladanan. Jangan menunggu anak “rusak” baru bergerak. Bentengi sejak awal, dampingi dengan cinta, dan arahkan dengan iman.
Karena pada akhirnya, anak yang terlindungi bukan hanya yang dijaga dari dunia, tetapi juga yang dijaga hingga akhirat.