Agar Kesendirian Tidak Menjadi Kesepian
TIDAK semua orang yang sendiri itu kesepian. Dan tidak semua orang yang dikelilingi banyak orang itu bahagia.
Ada orang yang hidup bersama keluarga, memiliki banyak teman, aktif di media sosial, tetapi hatinya tetap merasa kosong. Sebaliknya, ada orang yang sering sendirian, tetapi hatinya penuh ketenangan dan kebahagiaan. Karena sesungguhnya, kesendirian adalah keadaan fisik, sedangkan kesepian adalah keadaan hati.
Seseorang bisa sendirian tanpa merasa sepi. Namun seseorang juga bisa merasa sangat sepi di tengah keramaian.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Karena kebutuhan terbesar manusia sebenarnya bukan sekadar kehadiran manusia lain, melainkan kehadiran Allah dalam hidupnya.
Ketika hubungan dengan Allah lemah, hati mudah merasa kosong. Ia terus mencari pengganti kekosongan itu melalui pergaulan, hiburan, media sosial, bahkan hubungan yang tidak sehat. Namun sering kali kekosongan itu tetap ada. Allah SWT berfirman:
"Ingatlah, HANYA dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Perhatikan ayat ini. Allah tidak mengatakan bahwa hati menjadi tenang karena banyak teman, banyak pengikut, banyak harta, atau banyak pujian. Allah menyebutkan bahwa ketenteraman hati lahir dari kedekatan dengan-Nya.
Karena itu, salah satu cara terbaik agar kesendirian tidak berubah menjadi kesepian adalah menjadikan Allah sebagai sahabat terdekat dalam kehidupan.
Orang yang dekat dengan Allah tidak pernah merasa benar-benar sendiri. Ia yakin bahwa Rabb-nya selalu melihat, mendengar, memahami, dan menyayanginya. Allah SWT berfirman:
"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada." (QS. Al-Hadid: 4)
Namun yang membuat banyak orang tertipu adalah karena Allah itu ghaib (tidak terlihat). Sedang mereka butuh yang nyata akibat pengaruh materialisme.
Padahal...
Kita bisa merasakan "kehadiran" Allah jika mau membuka mata hati sedikit saja.
Ketika kita bertafakur sejenak mengapa kita ada dan mengapa kehidupan ini ada.
Kesadaran inilah yang membuat hati seorang yang beriman tetap kuat meskipun sedang sendirian.
Seorang yang beriman yakin...
Ketika orang lain tidak memahami kita, Allah memahami.
Ketika orang lain melupakan kita, Allah tidak pernah melupakan.
Ketika orang lain meninggalkan kita, Allah tetap bersama kita.
Selain itu, kesendirian akan terasa indah jika diisi dengan aktivitas yang bermakna. Banyak orang merasa sepi bukan karena sendirian, tetapi karena hidupnya kosong dari tujuan. Ketika tidak ada aktivitas yang bernilai, sering menyia-nyiakan waktu, maka pikiran mulai dipenuhi kekhawatiran, penyesalan, dan berbagai perasaan negatif.
Karena itu, gunakan waktu-waktu ketika sendirian untuk mendekat kepada Allah, menghadiri pengajian (liqo'), membaca Al-Qur'an, menulis, berdzikir, berdoa, atau melakukan amal kebaikan.
Rasulullah saw sering menghabiskan waktu untuk berkhalwat dan merenung sebelum menerima wahyu. Banyak ulama besar menghasilkan karya-karya luar biasa justru ketika mereka memanfaatkan waktu-waktu kesendirian dengan baik. Kesendirian menghasilkan karya. Sebaliknya, kongkow-kongkow minimalis menghasilkan karya. Bahkan kesepakatan dari rapat pun yang berupa output kerja kebanyakan dikerjakan dengan sendirian.
Jadi...
Kesendirian yang diisi dengan ibadah akan melahirkan ketenangan.
Kesendirian yang diisi dengan ilmu akan melahirkan kebijaksanaan.
Kesendirian yang diisi dengan tafakur akan melahirkan kedewasaan.
Hal lain yang membuat seseorang tidak kesepian adalah memiliki misi hidup yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Orang yang hidup hanya untuk kesenangan dirinya sendiri akan mudah merasa kosong. Namun orang yang hidup untuk memberi manfaat kepada orang lain akan selalu menemukan makna dalam hidupnya. Rasulullah saw bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Thabrani)
Ketika kita sibuk berdakwah, membina, mengajar, membantu, atau melayani orang lain, hidup terasa lebih berarti dan hati menjadi lebih hidup. Asalkan niatnya karena Allah, bersama Allah, dan dengan tujuan mendapatkan ridho Allah Ta’ala.
Yang juga penting adalah belajar menikmati kebersamaan dengan diri sendiri. Sebagian orang takut sendirian karena belum berdamai dengan dirinya. Ia terus membutuhkan keramaian untuk mengalihkan perhatian dari berbagai luka dan kegelisahan yang ada di dalam hatinya.
Padahal seorang mukmin perlu memiliki waktu untuk mengevaluasi dirinya. Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok." (QS. Al-Hasyr: 18)
Muhasabah sering kali membutuhkan suasana yang tenang dan jauh dari keramaian. Di situlah kita mengenali kekurangan diri, memperbaiki niat, dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Pada akhirnya, obat terbaik bagi kesepian bukanlah selalu mencari manusia, tetapi mendekat kepada Allah, Sang Maha Kasih. Manusia memiliki keterbatasan. Mereka bisa sibuk. Mereka bisa pergi. Mereka bisa berubah. Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mendekat kepada-Nya.
Maka jika suatu hari Anda harus berjalan sendirian, jangan takut.
Jika suatu hari Anda merasa tidak ada seorang pun yang memahami Anda, jangan putus asa.
Jika suatu hari hidup terasa sepi, jangan terburu-buru mencari pelarian.
Mendekatlah kepada Allah.
Perbanyak dzikir.
Perbanyak doa.
Perbanyak membaca Al-Qur'an.
Tingkatkan kekhusyukan sholat.
Isi hidup dengan amal dan manfaat.
Kesendirian justru menjadi ruang yang indah untuk bertumbuh, mendekat kepada-Nya, dan menemukan ketenangan yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun selain oleh Allah SWT.
"Ketika hati telah dipenuhi oleh Allah, kesepian tak lagi ada."