Anda Berhak Bahagia
BANYAK orang tidak bahagia karena terlalu sibuk memikirkan kesalahan orang lain. Mereka berkata:
"Saya akan bahagia jika pasangan saya berubah."
"Saya akan tenang jika orang yang menyakiti saya meminta maaf."
"Saya akan lega jika orang-orang berhenti mencemooh saya."
Akibatnya, kebahagiaan mereka menjadi sandera yang dititipkan kepada orang lain. Padahal, mengapa kita menyerahkan kendali kebahagiaan kita kepada orang yang bahkan tidak peduli dengan perasaan kita?
Bukankah itu kerugian yang sangat besar?
Ada orang yang hidupnya hancur karena perselingkuhan pasangan.
Ada yang kehilangan semangat karena terus menghadapi tabiat buruk suami atau istrinya.
Ada yang bertahun-tahun memendam luka karena dihina, diremehkan, atau difitnah.
Semua itu memang menyakitkan. Namun bukan berarti kita tenggelam dengan perbuatan orang lain kepada kita.
Islam tidak pernah menyuruh kita berpura-pura tidak terluka. Namun Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan seorang mukmin tidak boleh bergantung sepenuhnya pada perilaku manusia. Karena hati seorang mukmin terhubung kepada Allah, bukan kepada manusia.
Jika kebahagiaan kita bergantung kepada manusia, maka hidup kita akan naik turun mengikuti perilaku mereka.
Saat mereka baik, kita bahagia.
Saat mereka buruk, kita hancur.
Saat mereka memuji, kita tersenyum.
Saat mereka mencela, kita terpuruk.
Padahal Allah menghendaki hati kita lebih kokoh daripada itu. Rasulullah saw bersabda:
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan baginya." (HR. Muslim)
Perhatikan baik-baik. Bukan sebagian urusannya. Bukan hanya ketika hidupnya menyenangkan. Tetapi semua urusannya adalah kebaikan. Bahkan musibah sekalipun bisa menjadi jalan kebaikan jika dihadapi dengan sabar dan iman.
Karena itu, jangan biarkan kesalahan orang lain merampas kebahagiaan yang Allah berikan kepada kita.
Jangan biarkan perselingkuhan seseorang menghancurkan seluruh masa depan kita.
Jangan biarkan tabiat buruk pasangan membuat kita lupa menikmati nikmat Allah yang masih begitu banyak.
Jangan biarkan cemoohan manusia membuat kita meragukan nilai diri yang telah Allah berikan.
Mereka mungkin bisa melukai kita. Tetapi mereka tidak berhak menentukan apakah kita akan terus bahagia atau terus menderita. Keputusan itu ada pada diri kita sendiri. Allah SWT berfirman:
"Barangsiapa yang beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl: 97)
Perhatikan ayat ini. Allah tidak mengatakan bahwa kehidupan yang baik hanya diberikan kepada orang yang memiliki pasangan sempurna. Bukan pula hanya kepada orang yang tidak pernah dihina.Bukan juga kepada orang yang tidak pernah dikhianati. Tetapi kepada orang yang beriman dan beramal saleh. Artinya, sumber utama kebahagiaan adalah hubungan kita dengan Allah, bukan perilaku manusia kepada kita.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Melupakan bukan berarti menganggap luka itu tidak ada. Tetapi kita memilih untuk tidak membiarkan masa lalu terus mengendalikan masa depan. Kita memilih untuk tetap berjalan meskipun pernah disakiti. Kita j Sebab hidup ini terlalu berharga jika dihabiskan untuk menjadi tawanan karena perilaku orang lain.
Anda berhak bahagia.
Bukan karena semua orang memperlakukan Anda dengan baik. Tetapi karena Allah masih bersama Anda. Dan selama Allah bersama Anda, selalu ada alasan untuk melanjutkan hidup dengan penuh harapan, ketenangan, dan kebahagiaan.