Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Apa Bedanya Waspada Dengan Sangka Buruk?

·3 menit baca

BANYAK orang bingung membedakan antara waspada dan sangka buruk. Ketika seseorang berhati-hati terhadap orang lain, ada yang menuduhnya su'uzhan (bersangka buruk). Sebaliknya, ketika seseorang terlalu mudah percaya kepada semua orang, ia sering menjadi korban penipuan dan pengkhianatan.


Lalu, apa sebenarnya perbedaan antara waspada dan sangka buruk?


Waspada adalah sikap hati-hati yang lahir dari pengalaman, fakta, tanda-tanda, atau pertimbangan yang rasional. Sedangkan sangka buruk adalah menuduh, mencurigai, atau meyakini keburukan seseorang tanpa bukti yang cukup. Misalnya, ketika kita mengunci rumah sebelum bepergian, itu bukan sangka buruk kepada tetangga. Itu adalah kewaspadaan yang diperintahkan oleh akal sehat. Ketika kita memeriksa kembali isi kontrak sebelum menandatanganinya, itu bukan su'uzhan kepada pihak lain. Itu adalah kehati-hatian yang terpuji.


Islam sendiri melarang sangka buruk. Allah SWT berfirman:


"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa." (QS. Al-Hujurat: 12)


Ayat ini tidak mengatakan semua prasangka adalah dosa, tetapi banyak prasangka adalah dosa, terutama prasangka yang tidak memiliki dasar dan membuat kita menuduh orang lain secara tidak adil.


Sangka buruk membuat seseorang mudah memfitnah, merusak hubungan, dan menzalimi orang lain dalam penilaiannya.


Di sisi lain, Islam juga memerintahkan kewaspadaan. Islam tidak mengajarkan keluguan yang berlebihan. Allah Ta’ala berfirman:


"Wahai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu." (QS. An-Nisa: 71)


Rasulullah saw juga bersabda:


"Seorang mukmin tidak akan disengat dari satu lubang dua kali." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Hadis ini mengajarkan agar seorang mukmin belajar dari pengalaman dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Artinya, seorang muslim boleh dan bahkan harus waspada.


Lalu apa ciri orang yang waspada? Termasuk ketika berkenalan dengan orang baru, baik di offline maupun di online.


1. Tetap berbaik sangka, tetapi melakukan verifikasi.

2. Tidak mudah percaya, tetapi juga tidak mudah menuduh.

3. Menjaga diri dari risiko tanpa merendahkan orang lain.

4. Menilai berdasarkan bukti, bukan perasaan semata.


Sebaliknya, ciri orang yang berburu sangka adalah : 


1. Cepat menuduh tanpa bukti.

2. Selalu mencari sisi negatif orang lain.

3. Menafsirkan semua tindakan orang lain secara negatif.

4. Sulit mempercayai siapa pun meskipun tidak ada alasan yang jelas.


Umar bin Khattab ra pernah berkata:


"Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap sebuah ucapan yang keluar dari saudaramu selama engkau masih dapat menemukan makna yang baik untuknya."


Dari perkataan Umar ra tersebut kita bisa mengambil pelajaran bahwa untuk mencari penafsiran yang baik terhadap saudara kita. Namun pada saat yang sama, kita juga diperintahkan untuk menjaga diri dari kelalaian dan kebodohan.


Kesimpulannya, waspada dan sangka buruk mungkin terlihat mirip, tetapi hakikatnya sangat berbeda.Waspada adalah menjaga diri tanpa menzalimi orang lain. Sangka buruk adalah menzalimi orang lain di dalam hati sebelum adanya bukti.


Seorang muslim yang matang bukanlah orang yang mencurigai semua orang. Tetapi juga bukan orang yang mempercayai semua orang. Ia memiliki hati yang husnuzhan, namun akalnya tetap waspada.


"Berbaik sangkalah kepada manusia dalam hatimu, tetapi tetaplah berhati-hati dalam perbuatanmu. Sebab Islam mengajarkan kasih sayang tanpa menghilangkan kewaspadaan."

Bagikan:WhatsApp