Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Contohlah Pemuda Ini...

·3 menit baca

SUATU hari, seorang pemuda duduk lama setelah shalat. Ia menatap lantai masjid, hatinya penuh tanya.


“Aku sudah shalat… aku sudah puasa… tapi kenapa rasanya hidupku biasa saja?”


Ia bukan tidak taat. Ia bukan tidak peduli agama. Tapi ada yang terasa kurang. Hidupnya berjalan, tapi seperti tanpa arah. Amal ada, tapi seperti tidak berdampak.


Sampai suatu hari, ia mendengar sebuah ayat dari Al-Qur'an:


“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)


Ia tersadar… 

selama ini ia hanya menjalani ibadah, tapi belum benar-benar menghidupkan tujuan hidupnya.


Sejak hari itu, ia berusaha berubah.

Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri:

“Kalau hidup ini untuk Allah, lalu kenapa waktuku habis untuk hal yang tidak strategis membesarkan nama-Nya?”


Lalu ia mulai menyusun hidupnya. Shalat bukan lagi sekadar kewajiban, tapi pusat kekuatan. Kerja bukan sekadar mencari uang, tapi ladang dakwah. Interaksi bukan sekadar basa-basi, tapi peluang memberi manfaat.


Ia tidak lagi asal beramal. Ia mulai berpikir strategis.

Ia melihat banyak orang berbuat baik. Ada yang sibuk di sana, ada yang sibuk di sini. Tapi ia teringat satu hal. Mana perbuatan yang menjadi skala prioritas? Ternyata... itu adalah kegiatan membangun manusia menjadi pribadi Islami yang bermanfaat bagi peradaban. 


Ia memilih kegiatan yang berdampak pada pembangunan manusia di masa depan. Antara lain, ia mulai membina. Satu orang. Dua orang. Dan seterusnya. 

Ia mulai menulis, dan terlibat dalam pendidikan yang membangun jiwa.

Yang lainnya, ia makin serius menjaga keluarga dan anaknya dari erosi budaya materialistik. 


Ia teringat sabda Rasulullah saw: “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah…” (HR. Muslim)


Ia ingin menjadi kuat. Bukan hanya kuat ibadahnya, tapi juga kuat arah hidupnya.


Hari-hari pun berlalu. Perubahan itu mulai terasa. Ternyata kita bisa lebih bahagia jika sibuk memberdayakan orang lain. Ternyata pribadi kita bisa lebih baik, jika kita lelah memberdayakan orang lain.

Sebaliknya...

Ternyata jika kita sibuk mengurus kepentingan pribadi malah membuat kita makin bingung dan hampa.


Waktu terus berjalan. Tanpa ia sadari, hidupnya mulai memberi dampak. Ada orang yang berubah karena nasihatnya. Ada yang tersentuh karena kepeduliannya. Ada yang kembali mendekat kepada Allah karena kehadirannya. Ia teringat sabda Rasulullah saw:


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)


Kini, jika ada yang bertanya padanya, “Bagaimana cara hidup yang benar dan bahagia?”Ia akan menjawab: “Jangan hanya jadi muslim yang sekadar hidup, tapi jadilah muslim yang punya arah.”


Maka bertanyalah terus kepada dirimu: 

Apakah kamu masih sekadar menjalani hari-hari biasa dan terjebak di dalamnya... atau sudah mulai menjadi muslim strategis yang sedang menyiapkan surga terbaikmu?

Bagikan:WhatsApp