Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Everybody Happy!

·4 menit baca

BAYANGKAN jika ada sebuah ajaran yang membuat manusia bahagia, keluarga harmonis, tetangga saling menolong, hewan terlindungi, tumbuhan terjaga, udara bersih, sungai tidak tercemar, dan bumi menjadi tempat yang nyaman bagi semua makhluk.


Itulah ajaran Islam.


Allah SWT tidak menurunkan Islam untuk membuat manusia sengsara. Islam hadir sebagai rahmat, yaitu kasih sayang, kebaikan, dan keberkahan bagi seluruh alam. Allah berfirman:


"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya': 107).


Perhatikan ayat tersebut. Allah tidak mengatakan rahmat hanya untuk kaum muslimin, bukan hanya untuk orang Arab, bukan pula hanya untuk orang yang taat. Allah menggunakan kata "al-'alamin"—seluruh alam. Artinya, kehadiran Islam seharusnya membawa manfaat bagi siapa pun dan apa pun.


Everybody happy!


Rasulullah saw bersabda:


"Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Pengasih. Sayangilah penduduk bumi, niscaya Dzat yang di langit akan menyayangimu." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).


Islam mengajarkan agar manusia menghormati orang tua, menyayangi anak-anak, memuliakan perempuan, menjaga tetangga, menolong fakir miskin, berlaku jujur dalam bisnis, memenuhi janji, tidak menipu, tidak korupsi, tidak merusak lingkungan, bahkan menyayangi hewan.


Seorang wanita dimasukkan ke neraka karena menyiksa seekor kucing. Sebaliknya, seorang pendosa diampuni dosanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Mengapa? Karena kasih sayang adalah inti ajaran Islam.


Islam bahkan melarang menebang pohon tanpa alasan yang benar, melarang merusak bumi, melarang pemborosan air, sekalipun ketika berwudhu. Ini menunjukkan bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga agama yang menjaga keseimbangan kehidupan.


Jika ada orang yang membenci ajaran Islam bukan karena mereka benar-benar mengenalnya, melainkan karena mereka hanya melihat perilaku sebagian umat Islam yang belum mencerminkan ajaran Islam. Atau karena terpengaruh propaganda dari kaum Islamophobia.


Jangan menilai matahari dari bayang-bayangnya. Jangan menilai obat dari orang yang tidak meminumnya sesuai aturan. Begitu pula Islam. Ukurannya adalah Al-Qur'an dan Sunnah, bukan kesalahan sebagian pemeluknya atau karena propaganda fitnah.


Semakin banyak orang mempelajari Islam secara objektif, semakin mereka menemukan bahwa nilai-nilai Islam justru menjadi solusi berbagai krisis dunia: krisis keluarga, krisis moral, krisis lingkungan, krisis ekonomi, hingga krisis kesehatan mental. Allah Ta'ala berfirman:


"Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-An'aam: 153)


Semakin ilmu berkembang, semakin tampak bahwa petunjuk Allah selalu relevan sepanjang zaman.


Mahatma Gandhi pernah memuji akhlak Nabi Muhammad saw dan menyatakan bahwa kekuatan Islam bukan berasal dari pedang, melainkan dari kesederhanaan, kejujuran, dan keteladanan beliau saw.


Karen Armstrong menilai bahwa ajaran Nabi Muhammad memiliki kemampuan menjawab problem kehidupan manusia di berbagai zaman.


Michael Hart menempatkan Nabi Muhammad saw sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah karena keberhasilan beliau memimpin perubahan besar, baik dalam aspek spiritual maupun sosial.


Tentu pengakuan mereka yang non muslim itu bukan karena  dalil agama, tapi dari mempelajari Islam secara jujur.


Tuhan dalam Islam bukanlah Tuhan Penghukum. Hampir setiap surah di dalam Al-Qur'an dibuka dengan kalimat:


"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."


Nama Allah yang paling sering disebut adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Bahkan dalam hadis qudsi Allah berfirman: "Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).


Allah memang Maha Adil. Dia memberi pahala kepada yang berbuat baik dan menghukum orang yang zalim. Namun sebelum hukuman datang, Allah membuka pintu taubat, memberi kesempatan untuk memperbaiki diri, mengirim para rasul, menurunkan kitab suci sebagai petunjuk, menghapus dosa orang yang bertaubat dengan tulus, bahkan melipatgandakan pahala amal saleh.


Inilah Tuhan dalam Islam: Maha Kasih sekaligus Maha Adil.


Karena itu, jika Islam dipahami dan diamalkan dengan benar, kehadiran seorang muslim seharusnya membuat orang lain merasa aman, bukan takut. Tetangga merasa nyaman. Keluarga menjadi tenteram. Tempat kerja dipenuhi kejujuran. Lingkungan menjadi bersih. Hewan terlindungi. Alam tetap lestari.


Itulah makna Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.


Maka tugas kita bukan sekadar bangga menjadi muslim, tetapi menghadirkan wajah Islam yang membuat siapa pun merasakan manfaat kehadiran kita.


Sebab pada akhirnya, misi Islam sangat sederhana namun agung:


Everybody Happy.


Bukan hanya manusia yang bahagia, tetapi juga hewan, tumbuhan, dan seluruh alam semesta. Itulah wajah Islam yang sesungguhnya: agama kasih sayang, keadilan, dan rahmat bagi seluruh alam.

Bagikan:WhatsApp