Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Hati-Hati Dengan Framing Islam Dan Tokoh-Tokohnya

·3 menit baca

AKHIR-akhir ini kita sering melihat maraknya framing negatif terhadap Islam dan tokoh-tokohnya di media sosial. Sedikit kesalahan dibesar-besarkan. Potongan video dipelintir. Ceramah dipotong sebagian. Ucapan dipisahkan dari konteksnya. Bahkan ada yang sengaja membuat narasi agar umat membenci ulama, ustadz, aktivis dakwah, dan simbol-simbol agama.


Framing adalah cara membentuk opini publik dengan menggiring cara pandang masyarakat terhadap sesuatu. Ketika framing diarahkan kepada Islam dan tokoh-tokohnya, maka sasaran akhirnya bukan sekadar menjatuhkan individu, tetapi menjauhkan manusia dari agama itu sendiri.


Sebab banyak orang awam mengenal agama melalui para tokohnya. Ketika tokohnya terus dihina, dicurigai, dilecehkan, atau dibuat tampak buruk, maka perlahan rasa hormat terhadap agama ikut terkikis. Padahal Allah Ta’ala telah mengingatkan:


“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)


Ayat ini sangat relevan di era media sosial. Jangan mudah percaya pada potongan video, judul provokatif, atau unggahan viral. Bisa jadi yang disebarkan bukan fakta utuh, tetapi narasi yang sengaja dibangun untuk menggiring kebencian.


Hari ini banyak orang lebih cepat menekan tombol share daripada tabayyun. Akibatnya fitnah menyebar lebih cepat daripada kebenaran. Rasulullah saw bersabda:


“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)


Karena itu seorang muslim harus berhati-hati. Tidak semua yang viral itu benar. Tidak semua yang ramai dibahas layak dipercaya.


Yang juga perlu dipahami, serangan terhadap tokoh agama sering kali memiliki dampak besar terhadap moral masyarakat. Ketika ulama direndahkan, ustadz dicaci, dan orang saleh dicurigai terus-menerus, maka siapa lagi yang akan menjadi penjaga moral umat?


Jika masyarakat kehilangan kepercayaan kepada tokoh agama, maka yang tersisa adalah kekosongan nilai. Akhirnya standar benar dan salah diambil dari media sosial, hawa nafsu, tren, atau popularitas.


Padahal ulama dan orang-orang saleh memiliki posisi penting dalam menjaga akhlak masyarakat. Rasulullah saw bersabda:


“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)


Tentu manusia tidak ada yang sempurna, termasuk tokoh agama. Jika ada kesalahan pribadi, maka koreksi dilakukan secara adil dan proporsional, bukan dengan kebencian membabi buta apalagi menjadikan kesalahan satu orang sebagai alasan membenci agama.


Sebab salah satu strategi yang sering digunakan untuk menghancurkan sebuah peradaban adalah merusak simbol moralnya terlebih dahulu. Ketika penjaga moral dijatuhkan, maka kerusakan lebih mudah masuk.


Lihatlah bagaimana hari ini zina dianggap biasa, aurat dianggap kuno, maksiat dijadikan hiburan, dan agama sering dianggap penghalang kebebasan. Semua ini terjadi ketika rasa hormat terhadap agama dan pembawanya mulai dihancurkan sedikit demi sedikit. Allah Ta’ala berfirman:


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra’: 36)


Karena itu umat Islam harus cerdas, kritis, dan tidak mudah terprovokasi. Jangan sampai kita ikut menjadi alat penyebar framing yang akhirnya merusak agama kita sendiri.


Jika ada berita tentang tokoh Islam yang negatif, maka cek sumbernya, lihat konteks lengkapnya, lalu lakukan tabayyun,

dan hindari komentar penuh kebencian. Islam mengajarkan keadilan, bahkan kepada orang yang tidak kita sukai. Allah SWT berfirman:


“Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum membuat kalian tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8)


Akhirnya, hati-hatilah dengan framing terhadap Islam dan tokoh-tokohnya. Sebab jika umat dijauhkan dari agama dan para penjaga moralnya, maka yang hancur bukan hanya individu, tetapi moral masyarakat secara keseluruhan.

Bagikan:WhatsApp