Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Hidup Itu Permainan, Tapi Jangan Main-Main Menjalaninya

·3 menit baca

✍️ By. Satria Hadi Lubis


PADA video humor yang disertakan dalam tulisan ini terdapat pelajaran hidup. Bahwa kita jangan terlalu tegang menghadapi hidup. Sebab hidup ini permainan, tapi tetap harus gigih berjuang. Istilahnya: Sersan (santai tapi serius).


Ada orang punya sedikit masalah langsung panik. Sedikit gagal langsung putus asa. Hidupnya lebih banyak sedih daripada senang. Galau daripada tenang. Mengeluh daripada bersyukur. Pesimis daripada optimis.


Sebaliknya, ada pula yang menganggap hidup seperti permainan tanpa aturan. Akibatnya, ia lalai, terlalu santai, bermalas-malasan, dan bersenang-senang tanpa batas, lupa bahwa setiap langkah akan dimintai pertanggungjawaban.


Islam mengajarkan sikap yang berbeda. Hidup ini memang ibarat sebuah permainan. Allah Ta’ala berfirman:


"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-An'am: 32)


Ayat ini bukan mengajarkan kita untuk meremehkan kehidupan dunia. Justru sebaliknya. Dunia hanyalah arena pertandingan, sedangkan akhirat adalah tempat menerima piala.


Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kata lahw (senda gurau) dalam ayat tersebut adalah sesuatu yang melalaikan dari tujuan yang lebih penting. Dunia menjadi "lahw" apabila membuat seseorang lupa kepada Allah, melalaikan salat, atau meninggalkan kewajiban. Sebaliknya, bekerja, berdagang, belajar, memimpin, dan aktivitas dunia lainnya yang diniatkan untuk ibadah justru bernilai amal saleh.


Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah dunia disebut permainan dan senda gurau karena sifatnya sementara dan cepat berlalu. Manusia sering disibukkan oleh hal-hal yang tidak memberi manfaat kekal, sehingga lalai dari amal untuk akhirat.


Karena itu, hiduplah dengan serius, tetapi santai. Serius dalam beribadah, bekerja, belajar, dan berjuang. Namun santai dalam menghadapi ujian. Tidak mudah panik. Tidak mudah baper. Tidak mudah menyerah. Tetap optimis dan tidak berputus asa.


Dalam setiap permainan, pasti ada rintangan. Ada jatuh. Ada lumpur. Ada kegagalan. Bahkan terkadang ada sorakan dan ejekan dari orang lain.


Seorang muslim tidak berhenti hanya karena pernah jatuh. Ia bangkit. Ia mencoba lagi. Ia terus melangkah. Rasulullah saw bersabda:


"Mukmin yang kuat lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya ada kebaikan." (HR. Muslim)


Kekuatan itu bukan sekadar fisik. Yang lebih penting adalah kuat menghadapi kesulitan, ulet saat berjuang, dan tahan menghadapi tekanan.


Jangan malu jika harus jatuh dalam proses.

Jangan takut diejek ketika sedang berjuang.

Yang seharusnya membuat kita malu adalah menyerah sebelum berusaha maksimal.


Selama kita berada di jalan yang benar, tidak perlu takut pada cibiran manusia. Nabi Nuh 'alaihissalam diejek kaumnya ketika membangun bahtera. Para nabi dan orang-orang saleh juga tidak luput dari hinaan. Namun mereka tidak berhenti hanya karena ejekan. Mereka lebih memilih terus melangkah daripada menyesal selamanya. Allah SWT mengingatkan:


"Maka janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu benar-benar beriman." (QS. Ali 'Imran: 139)


Jadi, nikmatilah proses perjuangan ini.

Tersenyumlah ketika menghadapi tantangan.

Bangkitlah setiap kali terjatuh.

Teruslah melangkah meski ada yang meremehkan.


Karena bagi seorang muslim, tujuan akhirnya bukan sekadar sukses dunia, tetapi juga kemenangan yang jauh lebih besar: surga dan ridha Allah Ta'ala.


Itulah makna hidup yang sebenarnya....

Serius tapi Santai (Sersan). Serius dalam tujuan. Santai dalam menghadapi ujian. Gigih dalam perjuangan. Bahagia saat mencapai kemenangan dunia dan akhirat.

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya