IF YOU DON'T CHANGE, YOU WILL DIE (Jika Engkau Tidak Berubah, Maka Engkau Akan Mati)
IF YOU DON'T CHANGE, YOU WILL DIE
(Jika Engkau Tidak Berubah, Maka Engkau Akan Mati)
By. Satria hadi lubis
HIDUP adalah perubahan. Setiap hari usia kita berkurang, waktu terus berjalan, dan dunia tidak pernah berhenti bergerak. Karena itu, salah satu kesalahan terbesar dalam hidup adalah merasa cukup dengan kondisi diri saat ini.
Banyak orang ingin hidupnya lebih baik, tetapi tidak mau berubah. Ingin rezekinya bertambah, tetapi kebiasaan buruknya dipertahankan. Ingin keluarganya harmonis, tetapi emosinya tidak dikendalikan. Ingin dekat dengan Allah, tetapi masih enggan memperbaiki ibadahnya.
Padahal hukum kehidupan sangat sederhana: jika kita tidak berubah menjadi lebih baik, maka kita sedang bergerak menuju kemunduran. Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa perubahan selalu dimulai dari diri sendiri. Jangan menunggu keadaan berubah. Jangan menunggu orang lain berubah. Jangan menunggu waktu yang tepat. Mulailah dari diri kita hari ini.
Dalam perspektif Islam, kematian bukan hanya berhentinya jantung berdetak. Ada juga kematian hati. Hati yang tidak lagi tersentuh oleh nasihat. Hati yang tidak lagi merasa bersalah ketika berbuat dosa. Hati yang tidak lagi rindu kepada Allah. Rasulullah saw bersabda:
"Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, kalimat "If you don't change, you will die" bukan sekadar motivasi. Ia adalah peringatan. Jika kita tidak terus memperbaiki diri, bisa jadi yang mati terlebih dahulu bukan tubuh kita, tetapi hati kita.
Lihatlah para sahabat Nabi saw. Mereka tidak pernah merasa cukup dengan amal yang telah dilakukan. Mereka selalu berusaha menjadi lebih baik dari hari kemarin. Mereka memahami bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang terus bertumbuh dalam keimanan, ilmu, dan amal saleh. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya sudah baik biasanya berhenti belajar, berhenti memperbaiki diri, dan akhirnya terjebak dalam kesombongan yang tidak disadarinya.
Hari ini, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Apakah shalatku lebih baik dibanding tahun lalu?
Apakah hubungan dengan Al-Qur'an semakin dekat?
Apakah akhlakku semakin baik?
Apakah dosaku berkurang atau justru bertambah?
Apakah manfaatku bagi orang lain semakin besar?
Apakah dakwahku semakin efektif atau justru ditinggalkan karena terjebak rutinitas?
Jangan takut berubah menjadi lebih baik. Yang perlu ditakutkan adalah ketika usia terus bertambah, tetapi kualitas diri tidak ikut bertumbuh. Sebab setiap hari yang berlalu sesungguhnya sedang mendekatkan kita kepada kematian. Dan ketika kematian itu datang, yang akan menyelamatkan kita bukan rencana-rencana besar yang belum dikerjakan, tetapi perubahan nyata yang sudah kita lakukan karena Allah SWT.
Karena itu, jangan menunggu tahun depan. Jangan menunggu hari Senin. Jangan menunggu suasana hati yang baik. Berubahlah hari ini untuk lebih baik dan sukses, baik dalam ibadah, pekerjaan, berumah tangga, pergaulan, dan lain-lain. Sebab jika engkau tidak berubah, waktu akan terus berjalan. Dan suatu hari nanti, kematian akan datang sebelum perubahan itu sempat terjadi. Dan pada saat itu yang ditulis hanya penyesalan mendalam.
"Hari terbaik untuk berubah adalah hari ini. Hari terburuk untuk berubah adalah esok hari yang diubah untuk esok hari lagi"