Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Kampanye Lgbt: Kampanye Pertaruhan Fitrah

·4 menit baca

SIKAP BEM Fakultas Psikologi UI yang baru-baru ini menyebut perilaku LGBT bukan penyimpangan sungguh sangat memprihatinkan kita semua. Hal ini dapat ditafsirkan sebagai kemenangan kampanye LGBT yang belakangan ini makin masif. 


Ternyata, saat ini kita bukan hanya menghadapi krisis ekonomi, krisis lingkungan, atau krisis politik, tapi juga krisis yang jauh lebih mendasar, yaitu krisis fitrah manusia. Hal itu dapat terlihat dari maraknya kampanye LGBT di berbagai media, lembaga pendidikan, industri hiburan, hingga platform digital.


Yang menjadi persoalan bagi kita bukanlah sekedar keberadaan individu yang memiliki kecenderungan menyimpang dengan menjadi boti. Persoalannya adalah ketika perilaku yang bertentangan dengan fitrah manusia itu dipromosikan, dinormalisasi, dan diperjuangkan agar setara dengan hubungan normal laki-laki dan perempuan.


Padahal Allah SWT hanya menciptakan manusia dengan dua jenis kelamin: laki-laki dan perempuan.


"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat kebesaran Allah." (QS. Az-Zariyat: 49)


"Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak." (QS. An-Nisa': 1)


Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa keberlangsungan umat manusia bergantung pada hubungan laki-laki dan perempuan. Dari pasangan normal itulah lahir generasi baru yang akan melanjutkan peradaban manusia.


Tak ada satu pun peradaban di sepanjang sejarah manusia yang lahir dari hubungan sesama jenis. Semua peradaban dibangun di atas institusi keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak.


Institusi keluarga bukan sekadar sarana memenuhi kebutuhan biologis, tetapi mempunyai tujuan yang lebih mulia sebagaimana firman Allah SWT:


"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)


Dalam ayat ini, pernikahan bertujuan menghadirkan ketenangan dan kasih sayang. Dari situ, lahirlah generasi yang baik, nasab yang terjaga, dan masyarakat yang kokoh. 


Lalu ketika hubungan sesama jenis diposisikan setara dengan hubungan normal laki-laki dan perempuan, maka tujuan besar tersebut tak akan dapat terwujud sebagaimana mestinya fitrah penciptaan manusia.


Yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah dampak dari normalisasi perilaku menyimpang LGBT terhadap cara pandang masyarakat, khususnya generasi muda. 


Saat ini saja kita melihat ada anak muda yang tak mau menikah, tak mau punya anak, hingga berdampak pada turunnya angka kelahiran, dan generasi penerus semakin berkurang, seperti yang dialami banyak negara Eropa. Disana terjadi krisis kelahiran, populasi yang menua, dan berkurangnya tenaga produktif. Semua itu menunjukkan betapa berbahayanya jika kampanye boti dibiarkan dan dianggap normal.


Al-Qur'an telah mengingatkan kisah kaum Nabi Luth as sebagai pelajaran tentang keberadaan kaum LGBT yang melanggar fitrah.


"Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi nafsumu, bukan kepada perempuan? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas." (QS. Al-A'raf: 81)»


"Mengapa kamu mendatangi laki-laki di antara manusia dan meninggalkan istri-istri yang telah diciptakan Tuhanmu untukmu? Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas." (QS. Asy-Syu'ara: 165–166)


Kisah Nabi Luth as tidak sekadar menceritakan sejarah, tetapi menjadi peringatan agar manusia tidak boleh menormalisasi perilaku yang bertentangan dengan fitrah yang telah Allah tetapkan.


Jadi ketika hari ini kita menolak kampanye LGBT bukan berarti membenci pelakunya. Kita perlu membedakan antara manusia dan perbuatannya. Sebagai muslim, kita tak boleh menghina, menzalimi, atau merampas hak siapa pun. Namun seorang muslim juga tidak boleh menganggap benar sesuatu yang telah Allah nyatakan sebagai dosa besar.


Oleh karena itu, umat Islam hari ini dituntut untuk menjaga fitrah manusia, menjaga keluhuran berkeluarga, menjaga tumbuhnya generasi bermoral, dan menjaga masa depan peradaban yang baik. Sebaliknya, ketika kampanye LGBT dibiarkan dan penyimpangan seksual dinormalisasi, maka fondasi peradaban akan melemah, bahkan hancur.


Tentu kita tahu bahwa masa depan manusia tak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau kekuatan ekonomi. Masa depan manusia sangat bergantung pada kemampuannya menjaga fitrah yang telah Allah Ta’ala tetapkan. 


"Ketika fitrah dijaga, kehidupan akan lestari. Ketika fitrah ditinggalkan, kehidupan akan rusak dan peradaban akan kehilangan arah."

Bagikan:WhatsApp