Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Ketika Kita Sudah Tiada, Apa Yang Tertinggal Dari Anak Kita?

·4 menit baca

(Refleksi Hari Anak Nasional, 23 Juli 2026)


By. Satria hadi lubis 


"YA TUHAN, bentuklah putraku menjadi cukup kuat untuk mengetahui kapan ia lemah, dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri ketika ia takut, seseorang yang akan percaya diri dan mengakui dengan jujur kekalahannya, serta rendah hati dan lembut dalam kemenangan.


Bentuklah putraku, agar keinginannya adalah untuk tidak mengambil tempat dalam kumpulan pendosa, seorang anak yang mengenal Engkau, dan yang mengenal dirinya sendiri sebagai dasar dari segala pengetahuannya.


Aku mohon, tuntunlah ia, bukan di jalan yang mudah dan nyaman, tetapi di bawah tekanan dan desakan, kesulitan dan tantangan. Biarkan ia belajar untuk berdiri di tengah badai, biarkan ia belajar untuk mengasihi mereka yang gagal.


Bentuklah putraku untuk memiliki hati yang jernih, yang memiliki cita-cita luhur, seorang yang dapat memimpin dirinya sendiri sebelum dapat memimpin orang lain, seorang yang akan mencapai masa depan, tetapi tidak pernah melupakan masa lalu.


Dan, setelah semua hal ini ia miliki di dalam dirinya, aku mohon, tambahkanlah, rasa humor yang cukup dalam dirinya sehingga walaupun ia selalu serius, tetapi tidak pernah menganggap dirinya terlalu serius. Berikanlah ia kerendahan hati sehingga ia dapat selalu mengingat kesederhanaan dari kebesaran yang sejati, pikiran terbuka atas kebijaksanaan, dan kelembutan dari kekuatan sejati.


Dengan demikian, aku, ayahnya, akan memberanikan diri untuk berbisik, "Hidupku ini tidaklah sia-sia!"


Rangkaian doa diatas diucapkan oleh Jenderal Douglas MacArthur, seorang tokoh besar Perang Dunia II, untuk anaknya.


Douglas MacArthur tidak minta kekayaan untuk anaknya. Bukan pula kedudukan, kepandaian, atau kehidupan yang selalu mudah. Ia justru memohon agar putranya memiliki keberanian ketika takut, kejujuran ketika kalah, kerendahan hati ketika menang, keteguhan saat diterpa kesulitan, dan yang paling penting, mengenal Tuhan sebelum mengenal dunia.


Setiap orang tua pada hakikatnya sedang menyiapkan anak untuk sebuah perjalanan yang suatu hari akan mereka tempuh... tanpa kita.


Akan tiba masanya tangan kecil yang dulu selalu menggenggam jari kita harus berjalan sendiri.

Akan ada hari ketika mereka menghadapi masalah yang tidak bisa lagi kita selesaikan.

Akan ada malam ketika mereka menangis, sementara kita sudah tidak ada di samping mereka.

Bahkan mungkin, suatu hari nanti kita telah berada di dalam liang kubur, sedangkan mereka masih melanjutkan perjalanan hidupnya.


Lalu pertanyaannya...


Bekal apa yang sudah kita tinggalkan untuk mereka?

Hari Anak bukan sekadar perayaan tentang senyum anak-anak, tapi mengingatkan kita bahwa setiap anak sedang menunggu dibentuk oleh orang tuanya.


Bukan hanya dibentuk menjadi pintar. Tetapi menjadi kuat.

Bukan hanya menjadi sukses.Tetapi menjadi saleh.

Bukan hanya mampu mencari nafkah. Tetapi mampu menjaga amanah.

Karena dunia yang akan mereka hadapi jauh lebih berat daripada dunia yang kita kenal hari ini.


Mereka akan hidup di zaman ketika kecerdasan buatan semakin pintar, tetapi manusia bisa kehilangan nuraninya.

Mereka akan hidup di zaman ketika informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan semakin langka.

Mereka akan hidup di zaman ketika orang mudah terkenal, tetapi semakin sulit menjaga kejujuran.


Di zaman seperti itu, ijazah saja tidak akan cukup.Harta pun tidak akan cukup. Yang akan menyelamatkan mereka adalah iman yang hidup, akhlak yang kokoh, dan hati yang selalu kembali kepada Allah.


Allah mengingatkan: "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka..." (QS. At-Tahrim: 6).


Inilah tugas terbesar orang tua.

Bukan sekadar membesarkan anak.

Tetapi menyelamatkan mereka.

Sebab anak bukan hanya akan menjadi pewaris nama keluarga.

Mereka juga akan menjadi saksi, apakah kita telah menjalankan amanah Allah dengan sebaik-baiknya.


Dan ketika usia kita berakhir...

Rumah yang megah tidak lagi menemani.

Rekening yang penuh tidak ikut masuk ke liang lahat.


Yang mungkin masih terus datang adalah doa dari bibir seorang anak yang pernah kita ajari mengangkat kedua tangannya kepada Allah.


"Ya Allah, ampunilah ayahku..."

"Ya Allah, sayangilah ibuku..."


Doa itulah yang terus menembus langit, bahkan ketika nama kita mulai dilupakan manusia.


Maka, pada Hari Anak Nasional ini, mungkin yang paling perlu kita tanyakan bukanlah, "Sudah berapa banyak yang telah kita berikan kepada anak kita?"


Tetapi,


"Jika malam ini Allah memanggil kita pulang, apakah anak-anak kita sudah memiliki bekal untuk tetap berjalan di jalan-Nya?"


Karena warisan terbesar untuk anak bukanlah rumah. Bukan kendaraan. Bukan tabungan. Melainkan hati yang mengenal Allah, akhlak yang mulia, dan iman yang tetap teguh hingga akhir hayat.


Semoga Allah menjadikan anak-anak kita qurrata a'yun—penyejuk mata di dunia, pengangkat derajat orang tua di akhirat, dan amal jariyah yang tak pernah terputus hingga hari kita bertemu dengan-Nya. Aamiin.

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya