Ketika Nestapa Datang Terus-Menerus
ADA kalanya hidup terasa begitu berat. Ujian datang silih berganti. Satu masalah belum selesai, muncul masalah lainnya. Hati lelah, pikiran penat, dan langkah terasa semakin berat dijalani.
Di saat seperti itu, seorang mukmin tidak hanya sibuk menyalahkan keadaan. Ia juga bermuhasabah. Jangan-jangan ada dosa yang belum ditaubati, ada kewajiban yang masih dilalaikan, ada hati yang pernah disakiti, atau ada maksiat yang dianggap sepele padahal mendatangkan murka Allah.
Allah berfirman:
"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)."
(QS. Asy-Syura: 30)
Muhasabah bukan berarti berputus asa. Bukan pula menganggap semua musibah pasti hukuman. Tetapi seorang mukmin sadar bahwa dosa bisa menjadi sebab tertutupnya keberkahan, sempitnya hati, dan beratnya kehidupan.
Karena itu, ketika nestapa datang terus-menerus, jangan hanya sibuk mencari jalan keluar duniawi. Walau usaha logis tetap perlu dilakukan, tapi perbaiki juga hubungan dengan Allah. Perbanyak istighfar, shalat malam, sedekah, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan amal-amal shalih lainnya.
Bisa jadi masalah belum langsung hilang, tetapi hati menjadi kuat untuk menjalaninya. Dan itu adalah nikmat besar.
Jangan pula menghadapi masalah dengan cara yang buruk. Jangan melarikan diri kepada maksiat, melampiaskan emosi dengan kemarahan, menyalahkan semua orang, atau tenggelam dalam putus asa. Masalah harus dihadapi dengan cara yang baik, sabar, halal, dan penuh tawakal.
Kadang seseorang diuji bukan untuk menghancurkannya, tetapi untuk membersihkannya. Allah ingin mengangkat derajatnya, melembutkan hatinya, dan mengembalikannya agar lebih dekat kepada-Nya.
Rasulullah saw bersabda:
"Tidaklah seorang mukmin tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, gangguan, dan kegundahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jangan menyerah ketika nestapa datang bertubi-tubi. Bisa jadi itu adalah panggilan agar kita kembali bersujud lebih lama, beristighfar lebih banyak, dan lebih serius menyiapkan bekal akhirat.
Sebab sering kali manusia baru benar-benar kembali kepada Allah ketika dunia membuatnya menangis.