Malam-Malam Untuk Kembali
Malam itu dingin.
Di sudut kota, seorang pemuda bernama Amir berjalan lunglai. Bajunya lusuh, wajahnya kusut oleh dosa dan penyesalan. Hidupnya habis dalam maksiat. Malam-malam panjang penuh kelalaian, hari-hari tanpa arah. Ia tahu, hatinya sudah lama jauh dari Allah.
Namun malam itu berbeda.
Langkahnya terhenti di depan sebuah masjid kecil. Dari dalam terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Suaranya lembut menusuk seolah berbicara langsung ke jiwanya.
Ayat itu adalah firman Allah:
"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah..." (QS. Az-Zumar: 53)
Amir gemetar.
Air matanya jatuh.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama… ia merasa dipanggil.
Ia masuk ke dalam masjid dengan langkah ragu. Orang-orang sedang shalat malam.
Ia berdiri di belakang, tak tahu harus bagaimana.
Ketika imam sujud, ia ikut sujud… dan di situlah ia hancur.
Tangisnya pecah.
“Ya Allah… aku terlalu kotor untuk kembali… tapi aku tak punya tempat lain selain Engkau…”
Ia menangis lama.
Sangat lama.
Hingga lantai tempat ia bersujud basah oleh air mata.
Malam itu, ia pulang dengan hati yang berbeda.
Ia mulai berubah.
Pelan-pelan. Ia tinggalkan kebiasaan buruknya.
Ia ganti malam-malamnya dengan shalat, lisannya dengan dzikir. Orang-orang heran melihat perubahan itu.
Namun ujian datang.
Beberapa bulan kemudian, Amir jatuh sakit keras. Tubuhnya melemah dengan cepat. Ia terbaring, tak mampu lagi berdiri.
Seorang sahabatnya datang menjenguk, “Mir… kamu baru saja berubah… kenapa Allah justru memberimu sakit seperti ini?”
Amir tersenyum lemah.
“Justru ini hadiah… mungkin kalau aku sehat, aku akan kembali pada dosa… Allah menahanku di sini agar aku tetap dekat dengan-Nya…”
Hari-hari terakhirnya diisi dengan satu kalimat yang terus berulang di bibirnya: “Astaghfirullah… Astaghfirullah…”
Hingga suatu subuh… napasnya berhenti.
Ia wafat dalam keadaan bibirnya masih bergerak beristighfar.
Orang-orang yang dulu mengenalnya sebagai pendosa kini menangisinya sebagai hamba yang kembali.
Dari kisah Amir mengajarkan satu hal yang dalam...
Betapa banyak malam-malam untuk kembali disediakan oleh Allah, Yang Maha Pengasih
Hari-hari yang berlalu untuk kembali kepada fitrah
Tak peduli seberapa jauh seseorang tersesat selama ia mau kembali, Allah tidak hanya menerima tetapi juga memuliakan kepulangannya.
Karena rahmat Allah selalu lebih luas daripada dosa manusia.