Maraknya Gerakan Anti Pernikahan
BELAKANGAN ini media sosial dipenuhi berbagai narasi tentang “anti menikah”, “lebih baik sendiri”, “nikah cuma bikin sengsara”, hingga candaan yang menggambarkan rumah tangga seolah penjara kehidupan. Banyak konten yang viral justru memperlihatkan sisi pahit pernikahan, pertengkaran, perselingkuhan, masalah ekonomi, dan kelelahan mengurus keluarga. Akibatnya, sebagian orang mulai takut menikah dan menganggap hidup sendiri adalah pilihan paling aman.
Padahal, apakah benar pernikahan itu buruk?
Islam justru memandang pernikahan sebagai jalan ketenangan, cinta, dan keberkahan hidup. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Ar-Rum ayat 21:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”
Pernikahan bukan sekadar hubungan dua manusia, tetapi ibadah panjang yang menghadirkan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Memang di dalamnya ada ujian, lelah, dan konflik. Namun bukankah semua hal besar dalam hidup juga memiliki ujian? Kuliah ada lelahnya, bekerja ada tekanannya, berdakwah ada sakit hatinya. Tetapi bukan berarti semuanya harus ditinggalkan.
Gerakan anti pernikahan sering lahir dari rasa kecewa, trauma, atau pengaruh budaya yang terlalu mengagungkan kebebasan pribadi. Ada yang takut kehilangan kenyamanan hidup. Ada yang terlalu lama melihat contoh rumah tangga buruk. Ada pula yang termakan konten media sosial yang terus-menerus menampilkan sisi negatif pernikahan tanpa menunjukkan keindahan dan pahala di baliknya.
Padahal, tidak menikah juga memiliki dampak yang tidak ringan.
Kesepian di usia tua bisa menjadi sangat berat. Doa panjang dan lama dari anak agar kita masuk surga juga tak didapatkan. Fitrah manusia untuk dicintai dan diperhatikan juga menjadi berkurang. Banyak orang yang ketika muda merasa kuat sendiri, namun saat usia bertambah mulai merasakan kehampaan hidup. Tidak sedikit pula yang akhirnya mencari pelarian pada hubungan seks yang terlarang dan menyimpang.
Rasulullah saw bahkan menganjurkan umatnya untuk menikah. Beliau bersabda:
“Nikah itu sunnahku. Barang siapa membenci sunnahku, maka ia bukan golonganku.”
(HR. Ibnu Majah)
Pernikahan juga menjadi penjaga pandangan, penjaga kehormatan, dan jalan lahirnya generasi saleh. Dari keluarga yang baik lahir anak-anak yang kuat imannya. Maka ketika manusia mulai takut menikah, sebenarnya ada ancaman yang besar terhadap masa depan manusia itu sendiri, yakni akan terjadi the lost generation.
Karena itu, jangan mudah terpengaruh dengan propaganda yang membenci pernikahan. Jangan jadikan potongan-potongan kisah buruk di media sosial sebagai ukuran seluruh rumah tangga. Di luar sana, masih sangat banyak pasangan yang hidup bahagia, saling menguatkan dalam ibadah, tumbuh bersama dalam kesulitan, dan menjadi jalan surga satu sama lain.
Lain halnya jika seorang muslim sudah berusaha untuk mencari jodoh, disertai doa siang dan malam tapi belum kunjung datang jodohnya, maka ia bukan termasuk bagian dari gerakan anti pernikahan.
Menikah itu memang tidak mudah. Tetapi perlu dijadikan sebagai salah satu tujuan hidup. Sebab banyak kebahagiaan besar yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang berani menjalani proses pernikahan dengan iman, kesabaran, dan tanggung jawab.
Jadi jangan takut menikah dan menjadi pengecut hanya karena terlalu sering melihat konten orang yang gagal menjaga rumah tangganya. Karena yang salah bukan pernikahannya, tetapi manusianya yang belum siap menjalankan amanahnya.
Semoga Allah menjaga generasi kita dari pemikiran yang menjauhkan manusia dari fitrah dan sunnah Rasul-Nya. Aamiin.