Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Mengapa Allah Tidak Segera Menghukum Kita?

·3 menit baca

Seorang murid bertanya pada gurunya,


"Wahai Syeikh, mengapa Allah tidak segera menghukum orang-orang yang bermaksiat dan banyak berbuat dosa?"


Sang guru menjawab,


"Siapa bilang Allah tidak menghukum mereka? Bisa jadi mereka telah dihukum, tetapi tidak menyadarinya.


Ketahuilah...


Tidak semua hukuman Allah berupa musibah, kehilangan harta, sakit, atau kesulitan hidup. Bahkan, hukuman yang paling berat justru terjadi di hati yang hampa dan keras.


Ketika seseorang mulai kehilangan kenikmatan shalat, tidak lagi rindu membaca Al-Qur'an, malas berdzikir, enggan menghadiri liqo' dan majelis ilmu, serta semakin mudah melakukan maksiat tanpa merasa bersalah, bukankah itu hukuman yang sangat besar? Allah SWT berfirman:


"Maka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka." (QS. Ash-Shaff: 5)


Hati yang berpaling dari Allah adalah hukuman yang sangat menakutkan.

Bukankah pernah berlalu hari-hari tanpa kita menyentuh Al-Qur'an?

Bukankah malam-malam berlalu tanpa satu rakaat pun shalat malam?

Bukankah Ramadhan, enam hari Syawal, sepuluh hari pertama Dzulhijjah, dan berbagai musim kebaikan datang lalu pergi, tetapi kita tidak diberi taufiq untuk memanfaatkannya dengan maksimal?


Bukankah terkadang kita merasa berat melangkah ke masjid, tetapi ringan melangkah ke pusat perbelanjaan atau tempat hiburan?

Bukankah lisan terasa mudah untuk bergibah, mengeluh, atau berdusta, tetapi terasa berat untuk berdzikir dan membaca Al-Qur'an?

Bukankah langkah lebih mudah mengejar harta, jabatan, dan popularitas daripada berdakwah mengejar ridho Allah?


Jika itu terjadi, jangan-jangan itulah peringatan dari Allah agar kita segera kembali kepada-Nya. Rasulullah saw bersabda:


"Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rezeki karena dosa yang ia lakukan." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)


Rezeki itu bukan hanya harta. Justru rezeki terbesar adalah iman, taufiq, kelezatan beribadah, hati yang lembut, dan kemudahan melakukan amal saleh dan berdakwah.


Sebaliknya, kehilangan taufiq adalah kehidupan yang sangat merugikan. Allah Ta'ala berfirman:


"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit." (QS. Thaha: 124)


Kesempitan hidup bukan hanya soal ekonomi. Hati yang gelisah, galau dan kosong, serta kehilangan arah juga merupakan bentuk kesempitan hidup.


Karena itu, jangan merasa aman hanya karena hidup masih dipenuhi kenikmatan dunia. Bisa jadi Allah sedang menghukum kita, sambil tetap memberi kesempatan kepada kita untuk bertaubat. 


Jadi kenikmatan hidup yang dirasakan oleh mereka yang suka bermaksiat itu bukan berarti Allah SWT meridhoi kemaksiatannya. Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda?


"Apabila engkau melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba yang terus-menerus bermaksiat, maka sesungguhnya itu adalah istidraj." (HR. Ahmad)


Maka, jika hari ini kita masih diberi kesempatan untuk sholat dengan khusyuk, menikmati tilawah Al-Qur'an, menghadiri liqo' atau majelis ilmu, berdakwah, mudah sedekah, dan ringan melakukan kebaikan, bersyukurlah. Itulah salah satu tanda taufiq dan hidayah dari Allah 'Azza wa Jalla.


Sebaliknya, jika hati mulai keras, ibadah terasa berat, maksiat terasa ringan, jauh dari tempat berkumpulnya orang-orang sholih (majelis ilmu) dan dunia menjadi tujuan utama, segeralah istighfar!


Sebab, hukuman yang paling menakutkan bukanlah berkurangnya harta, turunnya jabatan, pudarnya ketenaran, atau hilangnya kesehatan. Hukuman yang paling menakutkan adalah ketika hati semakin jauh dari Allah, sementara kita tidak menyadarinya."


"Ya Allah, jangan palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi." (QS. Ali 'Imran: 8)

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya