Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Mengapa Ateisme Dan Agnostik Itu Salah?

·5 menit baca

AKHIR-akhir ini marak di sosial media kampanye tentang ateisme dan agnostik. Hal ini mengherankan sebenarnya karena ideologi komunisme sudah dilarang di Indonesia berdasarkan peraturan perundangan.


Maraknya propaganda yang mengajak nitizen di medsos untuk tidak bertuhan atau tidak beragama perlu diimbangi oleh konten-konten yang menjelaskan kesalahan cara berpikir ateis dan agnostik, sehingga nilai-nilai Pancasila tetap eksis di negeri tercinta ini. 


Ateisme adalah paham yang meyakini bahwa Tuhan tidak ada. Seorang ateis menolak keberadaan Allah dan menganggap alam semesta terjadi secara kebetulan dan tanpa pencipta. Sedang agnostik adalah paham yang mengatakan bahwa keberadaan Tuhan tidak bisa diketahui secara pasti. Mereka biasanya berkata, “Saya tidak tahu Tuhan ada atau tidak.” Sekilas agnostik terlihat netral, tetapi dalam praktiknya banyak orang akhirnya hidup tanpa agama karena terus berada dalam keraguan.


Lalu mengapa paham ateisme dan agnostik itu salah? 


1. Bertentangan dengan Akal Sehat

Tidak mungkin sesuatu yang sangat rumit tercipta sendiri tanpa pencipta. Rumah pasti ada pembangunnya. Mobil pasti ada pabriknya. Bahkan aplikasi kecil di ponsel pun ada pembuatnya. Maka lebih mustahil lagi jika alam semesta yang luar biasa besar dan teratur ini dianggap muncul dengan sendirinya. Allah Ta’ala berfirman:


“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?”

(QS. Ath-Thur: 35)


Ayat ini menggugurkan logika ateisme. Sesuatu tidak mungkin tercipta dari ketiadaan tanpa pencipta.


2. Alam Semesta Terlalu Teratur untuk Disebut Kebetulan

Siang dan malam berganti teratur. Matahari terbit tepat waktu. Tubuh manusia bekerja sangat kompleks. Semua ini menunjukkan adanya Pengatur Yang Maha Hebat. Allah SWT berfirman:


“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)


Jika satu jam tangan saja menunjukkan adanya pembuat, maka alam semesta tentu lebih menunjukkan adanya Sang Pencipta.


3. Sains Tidak Pernah Membuktikan Tuhan Tidak Ada

Sebagian orang berkata, “Sains sudah menjelaskan semuanya.” Padahal sains hanya menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja, bukan siapa yang menciptakan hukum-hukum alam tersebut.


Sains menjelaskan gravitasi, tetapi tidak menjelaskan siapa yang menciptakan hukum gravitasi. Sains hanya bisa menjelaskan gejala dari sebuah fenomena tanpa pernah tahu mengapa fenomena itu muncul dari ketiadaan. Maka ilmuwan yang jujur akan makin sadar ketika meneliti alam semesta ini bahwa semakin diteliti semakin tampak kehebatan ciptaan Allah.


4. Agnostik Hanya Berhenti dalam Keraguan

Agnostik sering berkata: “Saya belum tahu Tuhan ada atau tidak.” Padahal hidup tidak bisa dibangun di atas keraguan terus-menerus.


Jika seseorang tersesat di hutan lalu ada dua jalan, satu menuju keselamatan dan satu menuju jurang tentu ia akan serius mencari kebenaran. Karena hidupnya dipertaruhkan.


Begitu pula soal Tuhan dan akhirat. Jika Allah benar-benar ada, lalu manusia mengabaikan-Nya, maka akibatnya sangat besar. Allah berfirman:


“Padahal mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga.” (QS. Al-Jatsiyah: 24)


5. Fitrah Manusia Sebenarnya Mengenal Tuhan

Ketika berada dalam bahaya besar, banyak orang spontan memanggil Tuhan, bahkan yang sebelumnya mengaku ateis.


Saat pesawat turbulensi hebat, kapal tenggelam, atau sakit parah, manusia cenderung berdoa meminta pertolongan. Allah SWT berfirman:


“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-‘Ankabut: 65)


Ini menunjukkan bahwa mengenal Tuhan adalah fitrah manusia. Rasulullah saw bersabda:


“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)


6. Tanpa Tuhan, Moral Menjadi Tidak Punya Dasar

Jika Tuhan tidak ada, maka sebenarnya tidak ada standar mutlak tentang benar dan salah. Mengapa membunuh dianggap salah? Mengapa kejujuran dianggap baik? Jika semua hanya hasil kesepakatan manusia, maka moral bisa berubah sesuka hati.


Islam mengajarkan bahwa Allah adalah sumber kebenaran dan moralitas. Allah SWT berfirman:


"Ikutlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti selain Dia sebagai pemimpin. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf: 3)


7. Ateisme Membuat Hidup Kehilangan Tujuan

Jika hidup hanya soal lahir, makan, bekerja, lalu mati, maka apa makna sebenarnya dari kehidupan ini? Islam menjelaskan bahwa manusia diciptakan bukan sia-sia. Allah Ta'ala berfirman:


“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)


Dengan mengenal Tuhan, hidup memiliki arah, tujuan, dan harapan, sehingga dengan itu manusia bisa bahagia. Tanpa tujuan hidup manusia mudah galau dan stres.


8. Kesombongan Sering Menjadi Penghalang Hidayah

Sebagian orang menolak Tuhan bukan karena kurang bukti, tetapi karena merasa tidak mau diatur oleh agama. Mereka ingin bebas mengikuti hawa nafsu tanpa batas. Padahal ilmu manusia sangat terbatas. Allah SWT berfirman:


“Dan tidaklah kalian diberi ilmu melainkan sedikit.”

(QS. Al-Isra’: 85)


Semakin rendah hati seseorang dalam mencari kebenaran, semakin dekat ia kepada hidayah Allah.


Jadi, ateisme dan agnostik bukan tanda orang yang cerdas, justru sebaliknya. Sebab paham tersebut bertentangan dengan fitrah manusia, akal sehat, dan petunjuk wahyu. Sebab alam semesta menunjukkan adanya Pencipta. Hati manusia membutuhkan Tuhan. Dan Islam datang memberi jawaban tentang tujuan hidup, moralitas, dan kehidupan setelah mati.


Secara logika, menjadi orang ateis dan agnostik bisa rugi dua kali: rugi di dunia karena tidak bisa bahagia dan rugi di akhirat karena masuk neraka. Sebaliknya, menjadi orang beriman tidak ada ruginya, karena ia bahagia di dunia dengan iman dan moralitasnya, dan di akhirat ketika Tuhan memang tidak ada ia tak akan rugi (karena mati begitu saja tanpa pertanggungjawaban). Jadi secara logika, probabilitanya lebih untung jadi orang beriman daripada jadi orang ateis atau agnostik.


Akhirnya, jangan sampai kita terpengaruh oleh pemikiran ateisme dan agnostik yang menjauhkan manusia dari Tuhannya. Allah Ta’ala sendiri mengingatkan:


“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.” (QS. Fussilat: 53)

Bagikan:WhatsApp