Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Meningkatkan Militansi Dalam Berjuang

·3 menit baca

DI DALAM berjuang, yang paling berat sering kali bukan memulai, tetapi bertahan. Banyak orang yang bersemangat di awal, namun perlahan melemah ketika diuji oleh lelah, kesibukan, hinaan, atau kurangnya penghargaan manusia.


Ada yang dulu paling aktif berdakwah, kini mulai menjauh. Ada yang dulu paling semangat hadir tarbiyah, kini mulai sibuk dengan dunianya sendiri.


Padahal perjuangan Islam bukan perlombaan cepat. Ia adalah perjalanan panjang yang membutuhkan militansi iman. Militansi bukan berarti keras kepada manusia. Bukan pula kasar atau merasa paling benar. Militansi adalah keteguhan hati untuk tetap istiqamah membela agama Allah dalam keadaan apa pun. Allah SWT berfirman:


“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 23)


Lalu bagaimana menjaga agar ruh perjuangan tetap menyala?


1. Perbaiki niat terus-menerus

Banyak orang futur bukan karena dakwah terlalu berat, tetapi karena niatnya perlahan bergeser. Ketika perjuangan mulai ingin dipuji, dihargai, atau diakui, hati akan mudah kecewa. Tetapi jika niatnya karena Allah, maka sekalipun tidak dilihat manusia, ia tetap berjalan.


Ketahuilah... ikhlas adalah bahan bakar utama militansi dalam perjuangan.


2. Dekat dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk menguatkan jiwa pejuang. Para sahabat mampu bertahan menghadapi tekanan luar biasa karena hati mereka hidup bersama wahyu. Ketika iman melemah, kembali kepada Al-Qur’an adalah obat paling utama. Jangan sampai seorang aktivis dakwah sibuk mengurus manusia tetapi jauh dari firman Allah Ta'ala.


3. Jaga lingkungan perjuangan

Semangat itu menular. Begitu pula kemalasan. Karena itu aktivis Islam harus menjaga lingkaran pertemanan yang menguatkan iman, menghadiri majelis ilmu, halaqah, dan berkumpul dengan orang-orang saleh. Rasulullah saw bersabda:


“Seseorang tergantung agama teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud)


4. Jangan cinta dunia

Salah satu penyebab semangat dakwah melemah adalah hati terlalu berat meninggalkan kenyamanan dunia. Ketika jabatan, uang, popularitas, atau kenyamanan menjadi pusat hidup, maka perjuangan akan terasa mengganggu.


Padahal para sahabat rela kehilangan harta, kedudukan, bahkan nyawa demi Islam. Bukan karena mereka tidak mencintai dunia, tetapi karena mereka lebih mencintai Allah dan akhirat.


5. Ingat bahwa perjuangan pasti melelahkan

Jangan membayangkan jalan dakwah selalu dipenuhi pujian.

Nabi saw sendiri dihina, dilempari batu, dituduh gila, bahkan diperangi. Namun beliau tidak berhenti.


Jika hari ini kita lelah, itu tanda bahwa perjuangan memang membutuhkan pengorbanan. Allah SWT berfirman:


“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)


6. Perbanyak doa agar hati tetap istiqamah

Hati manusia mudah berubah. Karena itu pejuang Islam harus sering berdoa: “Yā Muqallibal qulūb, tsabbit qalbī ‘alā dīnik.” “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu.”


Banyak orang cerdas gugur di tengah jalan karena kurang memohon penjagaan hati.


7. Jangan bergerak sendirian

Perjuangan Islam adalah amal jama’i. Berjalan sendiri membuat hati lebih mudah lemah. Karena itu penting untuk terus memiliki sahabat seperjuangan, guru pembimbing,

dan komunitas dakwah yang saling menguatkan, sehingga ketika satu orang melemah, yang lain mengingatkan.


Militansi perjuangan Islam bukan tentang siapa yang paling keras berbicara. Tetapi siapa yang paling istiqamah menjaga iman, amal, dan pengorbanannya hingga akhir hayat.


Sebab sejatinya kemenangan terbesar bukan sekadar banyaknya pengikut dan memperoleh kekuasaan, tetapi wafat dalam keadaan tetap setia kepada jalan Allah.


Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak lelah berjuang, tidak futur dalam dakwah, dan tidak menjual agama demi dunia yang sementara. Aamiin.

Bagikan:WhatsApp