Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Tips Agar Tetap Semangat Dalam Membina

·3 menit baca

MEMBINA manusia bukan pekerjaan ringan. Ia menguras waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaan. Terkadang kita sudah berusaha mendekati, mengingatkan, menasihati, dan mendoakan, tetapi orang yang dibina justru menjauh, sulit dihubungi, atau berubah semangatnya.


Di titik itu, banyak pembina mulai lelah. Ada yang diam-diam berkata dalam hati, “Mengapa saya yang lebih peduli daripada dirinya sendiri?” Padahal jalan membina memang bukan jalan yang dipenuhi tepuk tangan. Ia adalah jalan sunyi penuh kesabaran.


Rasulullah saw sendiri merasakan beratnya membina manusia. Ada yang menerima dakwah beliau dengan air mata, ada pula yang menolak dengan keras. Namun beliau tidak berhenti mendidik umat.


Lalu bagaimana agar hati tetap bersemangat dalam membina?


1. Luruskan niat sejak awal

Jangan membina karena ingin dihormati, dianggap penting, atau ingin melihat semua orang cepat berubah. Jika niat kita bergantung pada respons manusia, maka kita akan mudah kecewa. Tetapi jika niatnya karena Allah, maka bahkan langkah kecil dalam membina akan terasa bernilai ibadah.

Allah melihat proses, bukan hanya hasil.


2. Sadari bahwa hidayah milik Allah

Tugas kita adalah menyampaikan, mendampingi, dan mendoakan. Adapun perubahan hati adalah urusan Allah. Allah Ta'ala berfirman:


“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)


Karena itu jangan putus asa jika binaan belum berubah sesuai harapan. Kadang nasihat yang hari ini ditolak, bertahun-tahun kemudian justru menjadi sebab hidayah.


3. Jangan terlalu berharap balasan manusia

Membina sering kali sepi dari penghargaan. Kadang yang dibina lupa berterima kasih. Kadang ketika berhasil, ia justru lebih dekat dengan orang lain. Kadang pembina hanya dikenang saat dibutuhkan. Namun bukankah Allah yang paling tahu siapa yang telah berkorban? Keikhlasan membuat hati tidak mudah patah.


4. Bangun kedekatan hati, bukan hanya program

Membina bukan sekadar mengisi materi. Manusia lebih mudah menerima nasihat dari orang yang peduli kepadanya.

Kadang sebuah pesan yang menanyakan kabar, mendengarkan curhat,membantu saat sulit, atau sekadar makan bersama, lebih membekas daripada ceramah panjang.


5. Jangan membina sendirian

Pembina juga manusia. Ia bisa lelah dan futur. Karena itu penting memiliki teman seperjuangan, lingkungan dakwah,

majelis ilmu, dan guru yang ikut menguatkan. Pembina yang tidak dibina akan mudah kosong jiwanya.


6. Nikmati proses kecil perubahan

Jangan hanya fokus pada target besar. Kadang keberhasilan membina terlihat dari hal sederhana, yang dulu jarang shalat mulai menjaga shalat, yang dulu kasar mulai lembut, yang dulu jauh dari masjid mulai hadir kajian. Perubahan manusia memang jarang instan. Bahkan para sahabat pun dididik Rasulullah saw secara bertahap.


7. Perbanyak doa untuk binaan

Ada hati yang tidak bisa disentuh oleh logika, tetapi luluh karena doa di sepertiga malam. Jangan remehkan kekuatan doa seorang pembina. Sebut nama binaan kita dalam sujud:

“Ya Allah, jaga dia. Lembutkan hatinya. Dekatkan dia kepada-Mu.” Bisa jadi yang mengubah dirinya bukan nasihat kita, tetapi air mata doa kita.


8. Ingat pahala jariyahnya

Membina manusia adalah investasi akhirat yang sangat besar. Ketika binaan menjadi baik, lalu ia mengajarkan kebaikan kepada orang lain, maka pahala terus mengalir kepada orang yang membinanya. Rasulullah saw bersabda:


“Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)


Membina memang melelahkan. Tetapi lelah di jalan membimbing manusia menuju Allah adalah lelah yang mulia.

Mungkin manusia tidak selalu mengingat pengorbanan kita. Namun Allah tidak pernah lupa.


Tetaplah membina. Tetaplah mendoakan. Tetaplah berharap. Karena bisa jadi, di akhirat nanti, ada seseorang yang menarik tangan kita menuju surga seraya berkata:


“Dulu engkau pernah sabar membinaku di jalan Allah.”

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya