Untuk Laki-Laki Yang Tak Banyak Bercerita
SEORANG pria menjadi bulan-bulanan massa. Wajahnya berlumuran darah. Tubuhnya terkapar tanpa nyawa di atas aspal. Ia dituduh mencuri kotak amal mesjid.
Teriakan "Maling!" menggema. Tidak ada yang bertanya mengapa ia mencuri. Semua sibuk menghakimi.
Tiba-tiba telepon jadul di saku celananya berdering. Seseorang mengangkat panggilan itu dan menyalakan pengeras suara.
Dari seberang terdengar suara anak perempuan yang lirih:
"Ayah... ayah sudah dapat uang untuk beli beras? Adik menangis terus ini karena lapar. Oiya... ada salam dari ibu. Ayah cepat pulang ya... kami semua menunggu ayah pulang ..."
Seketika suasana berubah.
Tangan-tangan yang tadi memukul mendadak lunglai. Mata-mata yang dipenuhi amarah kini sembab oleh air mata.
Mereka baru sadar, yang mereka hakimi bukan sekadar seorang pencuri.
Ia adalah seorang ayah... yang terpaksa mencuri karena tak tahu lagi harus berbuat apa untuk memberi makan keluarganya.
Lelaki yang merenggang nyawa karena kalah oleh kemiskinan.
Kisah ini mungkin hanya ilustrasi. Namun pesannya sangat jelas. Betapa banyak laki-laki yang setiap pagi keluar rumah membawa beban yang tak pernah mereka ceritakan.
Mereka berangkat sebelum matahari terbit, pulang ketika langit telah gelap. Menantang panas yang membakar, hujan yang mengguyur, jalanan yang berbahaya. Mereka mempertaruhkan kesehatan dan nyawanya demi satu tujuan: agar keluarganya tetap bisa makan.
Kadang mereka pulang dengan tubuh yang remuk, tetapi tetap berkata, "Alhamdulillah."
Kadang mereka menyembunyikan rasa sakit karena tak ingin istri dan anak-anaknya ikut cemas.
Kadang mereka menangis, tetapi hanya Allah yang melihat air mata itu ketika mereka bersujud di sepertiga malam.
Rasulullah saw sendiri kagum kepada laki-laki yang berlelah mencari nafkah:
"Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri." (HR. Bukhari)
Mencari nafkah yang halal bukan sekadar mencari uang. Ia adalah ibadah. Ia adalah jihad. Ia adalah bukti cinta seorang laki-laki kepada keluarganya dan bentuk tanggung jawabnya di hadapan Allah Ta'ala.
Seringkali perjuangan mereka tak tampak secara kasat mata.
Boleh jadi senyumnya sedang menutupi kesedihan.
Diamnya sedang menyembunyikan kegelisahan.
Kerjanya yang tak kenal waktu sedang menjadi ikhtiar terakhir agar anak-anaknya tidak tidur dalam keadaan lapar.
Untuk semua laki-laki tabah yang tak banyak bercerita. Tak banyak mengeluh, yang menyembunyikan lelah di balik senyum, yang mempertaruhkan tenaga, kesehatan, bahkan nyawanya demi keluarga.
Yang mungkin direndahkan orang karena upah pekerjaannya tak seberapa.
Yang mungkin beratnya beban yang dipikul tak dipahami istri dan anaknya.
Yakinlah....
Allah SWT melihat perjuanganmu. Allah menghargai pengorbananmu. Allah menjadi saksi atas setiap tetes keringatmu, setiap titik air matamu, setiap rasa sakit yang engkau sembunyikan, dan setiap niat tulusmu mencari rezeki yang halal.
Semoga Allah melapangkan rezekimu, menjaga keselamatanmu, menguatkan hatimu, menerima setiap pengorbananmu sebagai amal saleh, dan mengumpulkanmu kelak bersama orang-orang yang engkau cintai di surga-Nya. Aamiiin yaa robbal 'aalamiin.