“Cape Ya, Nak… Sini Ayah Peluk.”
Kalimat itu sederhana. Pendek. Bahkan mungkin jarang sekali terdengar.
Karena ayah… biasanya tidak pandai merangkai kata. Ia bukan tipe yang banyak bicara tentang perasaan. Ia lebih sering diam, lebih sering terlihat kuat, seolah tidak punya ruang untuk menunjukkan kelembutan.
Tapi kalau suatu hari kalimat itu keluar dari mulutnya…
percayalah, itu bukan kalimat biasa.
Itu adalah cinta… yang selama ini ia simpan dalam diam.
Seorang anak pulang dengan langkah berat. Hari itu tidak mudah. Dunia terasa sempit. Masalah datang bertubi-tubi. Tidak ada tempat bercerita. Tidak ada yang benar-benar mengerti.
Ia mencoba terlihat biasa. Menahan semuanya. Seperti yang selama ini ia lakukan.
Namun ayah… selalu punya cara melihat yang tak terlihat. Ia tidak bertanya panjang. Tidak menghakimi. Tidak memberi ceramah. Ia hanya berkata pelan, "Cape ya, Nak… sini ayah peluk.”
Seketika… pertahanan itu runtuh.
Air mata yang sejak tadi ditahan, akhirnya jatuh.
Beban yang dipikul sendirian, perlahan terasa ringan.
Dalam pelukan itu, ada ketenangan yang sulit dijelaskan.
Ayah tidak banyak bicara. Tapi pelukannya seolah berkata,
"Kamu tidak sendirian."
"Ayah di sini."
"Semua akan baik-baik saja."
Kita sering mencari tempat pulang ke mana-mana.
Mencari pengertian dari banyak orang.
Mencari ketenangan di luar sana.
Padahal… kadang yang kita butuhkan hanya satu:
pelukan ayah.
Pelukan yang mungkin jarang kita minta.
Pelukan yang sering kita anggap tidak penting.
Pelukan yang… baru kita sadari harganya, ketika sudah tidak bisa lagi kita rasakan.
Jika hari ini ayahmu masih ada…
Jangan tunggu sampai kamu benar-benar lelah.
Jangan tunggu sampai hidup memaksamu jatuh.
Datangi dia.
Duduk di dekatnya.
Dan jika kamu berani…
katakan pelan,
"Ayah… aku capek."
Mungkin ia tidak akan langsung menjawab.
Mungkin ia hanya diam.
Tapi bisa jadi…
ia akan membuka tangannya, dan berkata,
“Sini, Nak… ayah peluk.”
Dan di situlah kamu akan mengerti…
bahwa pelukan itu adalah rumah,
yang selama ini tidak pernah benar-benar kamu tinggalkan.