Ketika Hidup Mulai Menjemukan
PAGI itu, Amir bangun tanpa semangat. Alarm berbunyi seperti biasa, tapi hatinya terasa kosong. Ia duduk di tepi ranjang, menatap dinding, bertanya dalam diam: “Beginikah hidup akan terus berjalan?”
Hari-harinya tidak buruk. Pekerjaannya stabil, keluarganya utuh, kebutuhan tercukupi. Namun entah sejak kapan, semua terasa sama. Bangun, bekerja, pulang, dan tidur. Besoknya terulang. Tidak ada luka besar, tapi juga tidak ada rasa hidup.
Di perjalanan menuju kantor, Amir melihat orang-orang bergegas. Wajah-wajah lelah, mata kosong. Ia merasa sedang bercermin. Di sela kesibukan, ia bertanya pada dirinya sendiri: “Aku capek, tapi bukan karena berat. Aku jenuh, tapi bukan karena kekurangan.”
Malam itu, Amir pulang lebih awal. Ia duduk sendirian di ruang tamu. Telepon genggamnya ia letakkan. Sunyi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan sunyi datang. Dan di situlah ia sadar, yang menjemukan itu bukan hidupnya, tapi hatinya yang lama tak diajak bicara.
Waktu isya hampir habis. Amir berwudhu dengan langkah berat. Shalat ia lakukan seperti biasa. Namun malam itu, entah mengapa, ia tak langsung berdiri setelah salam. Ia duduk lebih lama. Nafasnya tertahan. Dadanya sesak. Lalu ia berbisik lirih, “Ya Allah, kenapa hidupku terasa kosong?”
Tidak ada suara yang menjawab. Tidak ada cahaya yang turun. Tapi hatinya terasa disentuh. Ia teringat, sudah lama shalatnya sekadar menggugurkan kewajiban. Doanya tergesa. Al-Qur’annya berdebu di rak. Hidupnya penuh aktivitas, tapi miskin arah.
Hari-hari berikutnya, Amir mencoba mengubah sedikit saja. Ia datang shalat lebih awal. Ia membaca Al-Qur’an meski hanya beberapa ayat, tapi ia baca artinya. Ia niatkan ulang pekerjaannya. Bukan sekadar mencari nafkah, tapi menunaikan amanah. Tidak drastis, tapi perlahan.
Beberapa pekan berlalu. Hidup Amir masih sama. Pekerjaan sama. Rutinitas sama. Masalah tetap ada. Namun rasa itu berubah. Hidup tak lagi terasa hambar. Karena kini, setiap hari terasa terhubung kepada tujuan yang lebih besar dari sekadar bangun besok pagi.
Amir akhirnya mengerti bahwa hidup terasa menjemukan bukan karena kurang warna, tapi karena lupa makna. Dan makna itu tidak ditemukan dengan lari menjauh, tapi dengan kembali kepada Allah.
Karena bersama Allah, bahkan hidup yang sederhana pun terasa hidup.