Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Apa Bukti Orang Ikhlas?

·2 menit baca

APA bukti orang itu ikhlas?

Bukan dari ucapannya.

Bukan dari pekerjaannya.

Bukan dari banyaknya follower.

Juga bukan dari kekayaannya.


Bukti ikhlas terlihat ketika seseorang tetap berdakwah dan membina, meski tidak diberi apa-apa.

Ia bergerak karena Allah, bukan karena amplop.

Ia berjalan karena mengharap pahala, bukan karena tepuk tangan.


"Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?" (Qs. Hud ayat 51)


Para nabi berdakwah tanpa tarif.

Mereka tidak memasang harga untuk hidayah.


Lihatlah Nabi Nuh as...

Sembilan ratus lima puluh tahun berdakwah. Tidak kaya karena dakwahnya. Tidak berhenti karena sedikit pengikutnya.


Lihat pula Nabi Muhammad saw...

Beliau menolak gunung emas dan memilih hidup sederhana.

Beliau tegaskan bahwa tidak ada upah yang diminta dari manusia.


Merekalah, para nabi, teladan sepanjang masa.

Sebaik-baiknya manusia yang bahagia.


Ikhlas itu tidak ringan.

Orang yang belum ikhlas mudah kecewa:

“Sudah capek mengisi kajian, kok tidak diberi apa-apa?”

“Sudah lama membina, kok tidak ada yang perhatian?”


Padahal dakwah bukan transaksi.

Dakwah adalah pengabdian.

Orang yang ikhlas tetap datang meski jama'ah sedikit.

Tetap membina meski anak binaannya belum berubah.

Tetap hadir meski tidak ada konsumsi.

Tetap tersenyum meski tidak disebut namanya.


Karena yang ia cari bukan manusia.

Ia mencari wajah Allah.


"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu." (Qs. Al-Insan ayat 9)


Ikhlas itu sunyi.

Kadang yang tahu hanya Allah.

Kadang yang mencatat hanya malaikat.


Orang yang ikhlas tidak berhenti ketika upah berhenti.

Tidak surut ketika fasilitas hilang.

Tidak berubah ketika pujian menghilang.


Ia berdakwah karena merasa bersyukur kepada Allah.

Ia membina karena sadar dirinya pun sedang dibina.


Bukti ikhlas bukan berarti tidak boleh menerima materi.

Bukan itu.


Namun hatinya tidak bergantung pada materi.

Jika diberi, ia bersyukur.

Jika tidak diberi, ia tetap bersyukur.

Karena upahnya bukan dari manusia.

Upahnya di sisi Allah.


Orang seperti ini tidak akan pernah merugi.

Setiap lelahnya tercatat.

Setiap langkahnya dihitung.

Setiap air matanya dibalas.


Mungkin dunia tidak membayar.

Tapi Allah SWT tidak pernah lupa membalas.

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya