Satria Hadi Lubis
Kembali ke artikel

Hidup Untuk Mencari Kebahagiaan, Bukan Kenyamanan

·3 menit baca

BANYAK orang yang keliru memahami tujuan hidup. Mereka mengira hidup adalah tentang mencari kenyamanan : rumah yang tenang, pekerjaan yang ringan, hubungan yang tidak penuh ujian, dan hari-hari tanpa beban. 


Padahal, jika kenyamanan dijadikan tujuan, manusia akan mudah rapuh. Sedikit saja diuji, ia mengeluh. Sedikit saja terganggu, ia merasa hidupnya hancur.


Islam tidak mengajarkan kita hidup demi kenyamanan. Islam mengajarkan kita untuk hidup demi kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan yang tidak selalu identik dengan mudahnya jalan, tetapi dengan dekatnya hati kepada Allah.


Kenyamanan itu sifatnya sementara. Hari ini nyaman, besok bisa tidak. Nyaman memang tiduran sambil asyik scroll medsos, nyaman memang nongkrong sambil main games, tapi rugi memang di masa depan yang tak disiapkan.


Jika hati kita bergantung pada kenyamanan, maka hidup ini akan dipenuhi kecemasan. Kita takut kehilangan, takut berubah, dan akhirnya sulit bersyukur.


Sebaliknya, kebahagiaan bersumber dari iman dan amal. "Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik." (QS. An-Nahl: 97)


Perhatikan, Allah tidak menjanjikan “kehidupan yang nyaman”, tetapi “kehidupan yang baik”. Kehidupan yang baik bisa saja penuh ujian, tetapi hati tetap tenang. Bisa saja lelah, tetapi jiwa tetap lapang. Itulah kebahagiaan sejati.


Para nabi dan orang-orang saleh adalah bukti nyata. Hidup mereka jauh dari kata nyaman. Ada yang diusir, dicaci, bahkan disakiti. Namun, mereka adalah manusia paling bahagia, karena hati mereka terikat kuat kepada Allah. Mereka tidak mencari jalan yang paling mudah, tetapi jalan yang paling diridhai oleh Allah SWT.


Rasulullah saw sendiri hidup dalam kesederhanaan. Pernah berhari-hari tidak makan, tidur di atas tikar kasar, menghadapi tekanan dan ancaman. Namun, beliau adalah manusia yang paling tenang dan paling bahagia. Karena kebahagiaan beliau bukan pada dunia, tetapi pada kedekatan dengan Rabb-nya.


Di sinilah letak perbedaannya :

Orang yang mengejar kenyamanan akan menghindari kesulitan.

Orang yang mengejar kebahagiaan akan siap menghadapi kesulitan demi kebaikan.


Kenyamanan sering membuat seseorang berhenti bertumbuh. Ia malas berjuang, enggan berkorban, dan takut mengambil risiko dalam berjuang. Mudah patah, putus asa, bahkan frustasi. Sementara kebahagiaan justru lahir dari perjuangan, dari sabar dalam ujian, ikhlas dalam pengorbanan, dan istiqamah dalam ketaatan.


Allah SWT mengingatkan kita :

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut: 2)


Ujian bukan tanda Allah menjauh, tetapi tanda Allah sedang membentuk. Dari ujian lahir kesabaran. Dari kesabaran lahir kedewasaan. Dan dari kedewasaan lahir kebahagiaan yang tidak mudah tergoyahkan.


Maka, ubahlah cara pandang kita. Jangan lagi bertanya, “Bagaimana agar hidupku nyaman?” Tetapi tanyakan, “Bagaimana agar hidupku bahagia di sisi Allah?”


Karena bisa jadi jalan yang tidak nyaman justru mengantarkan kita pada surga. Dan bisa jadi jalan yang terlalu nyaman justru mengantarkan kita pada neraka.


Hidup ini singkat. Terlalu sayang jika hanya dihabiskan untuk mengejar rasa enak sesaat. Nanti saja si surga tempat nyaman abadi. Sedang dunia tempat ujian dan berjuang. Kejar yang lebih tinggi, yaitu ridha Allah SWT. Kejar yang lebih dalam, yakni ketenangan hati. Kejar yang lebih abadi, yaitu kebahagiaan di akhirat.


Kenyamanan itu seperti garam dalam makanan. Hanya boleh sedikit agar rasanya enak. Tapi kebahagiaan sejati adalah tujuan.

Bagikan:WhatsApp

Tulisan Lainnya